Rabu, 20 April 2011

Wanita,Pembentuk Pondasi Bangsa

Setuju tidak setuju, terima tidak terima, bagaimana pun wanita memang memikul peran yang sangat berat, baik sebagai seorang ibu, sebagai istri maupun wanita sebagai makhluk sosial yang juga ingin berinteraksi dalam kehidupan sosial seperti halnya pria, namun mau tidak mau peran tersebut seharusnya memang harus dijalani secara selaras, serasi dan seimbang. Siapa pun dan di mana pun wanita (terutama wanita sebagai seorang ibu) berada, kalian adalah pembentuk pondasi dari bangsa dan negara ini, sedangkan anak -anak kalian adalah pondasi dari bangsa dan negara ini. Jika pembentuk pondasi tidak sempat lagi membuat dan membentuk pondasi, maka jangan heran dan menyesal jika pondasi mudah rapuh dan hancur..
WANITA memiliki banyak peran penting dalam kehidupan. Kelalaian seorang wanita dalam menjalani perannya akan menyebabkan ketidakseimbangan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bemegara.

Maju atau mundumya bangsa dan negara ini sangat tergantung dari peran wanita (sebagai seorang ibu) dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Runtuhnya moral bangsa ini juga ditentukan oleh perannya tersebut.

Kelalaian wanita sebagai seorang ibu dalam membentuk dan menjaga moral anak-anaknya akan berimbas pada kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.

Degradasi moral yang dialami bangsa kita saat ini adalah berawal dari kelalaian dan kegagalan orang tua mengasuh dan mendidik anak-anaknya, dimana peran wanita sebagai seorang ibu sangat diperlukan dalam hal ini.

Memang tidak adil jika kita lebih melimpahkan kesalahan ini kepada wanita, namun harus diakui bahwa naluri wanita sebagai seorang ibu lebih dalam terhadap anak-anaknya daripada naluri sang ayah. Kebanyakan anak-anak lebih mudah dekat dengan sang ibu daripada dengan sang ayah.

Karena kebanyakan sang ibu lebih terbuka terhadap anak-anaknya dengan lebih menunjukkan kasih sayangnya sehingga tidak heran jika anak-anak cenderung lebih merasa bahwa sang ibu lebih sayang kepada mereka, sedangkan sang ayah kebanyakan lebih cool dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya, walaupun sebenarnya kasih sayang sang ayah sama besarnya dengan sang ibu.

Besarnya peran wanita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah menyebabkan posisi wanita berada dalam sebuah dilema dalam perkembangan zaman saat ini, dimana wanita juga merasa punya hak yang sama seperti pria dalam berkiprah di berbagai bidang.

Dalam menjalani perannya, baik sebagai ibu, istri, maupun sebagai wanita yang juga bagian dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah menyebabkan tarik-menarik prioritas dalam diri wanita. Inilah awal terjadinya ketidakteraturan dan ketidakseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Jika sang ayah sibuk bekerja, lalu wanita sebagai seorang ibu juga melakukan hal yang sama, lalu siapa yang mengurus anak-anaknya? Lalu siapa yang membentuk dan menjaga moral anak-anaknya? Padahal sebenarnya tidak ada yang lebih peduli dari perkembangan sang anak, melainkan ibu dan ayahnya sendiri.

Tidak heran jika kadang sang nenek akhirnya dipanggil ibu oleh sang anak karena yang malah mengasuh anak-anak mereka adalah sang nenek. Kasian sang nenek karena ternyata belum habis tugas mengurus anak-anaknya, lalu disibukkan denganmengurus cucu-cucunya lagi.

Tidak heran jika sang pembantu atau babysitter dipanggil ibu oleh sang anak, karena dalam kehidupan sehari-hari waktu sang anak lebih banyak dihabiskan bersama sang babysitter daripada bersama ibu dan ayahnya.

Setuju tidak setuju, terima tidak terima, bagaimana pun wanita memang memikul peran yang sangat berat, baik sebagai seorang ibu, sebagai istri maupun wanita sebagai makhluk sosial yang juga ingin berinteraksi dalam kehidupan sosial seperti halnya pria, namun mau tidak mau peran tersebut seharusnya memang harus dijalani secara selaras, serasi dan seimbang.

Siapa pun dan di mana pun wanita (terutama wanita sebagai seorang ibu) berada, kalian adalah pembentuk pondasi dari bangsa dan negara ini, sedangkan anak -anak kalian adalah pondasi dari bangsa dan negara ini. Jika pembentuk pondasi tidak sempat lagi membuat dan membentuk pondasi, maka jangan heran dan menyesal jika pondasi mudah rapuh dan hancur.

Sesungguhnya peran wanita sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, apalagi peran wanita sebagai seorang ibu lebih dari pahlawan bagi anak-anaknya. Apapun yang anaknya lakukan untuk membalas jasa-jasa wanita sebagai seorang ibu, takkan pernah terbayar hingga hari akhir nanti.

Semoga habis gelap terbitlah terang yang diimpikan oleh Raden Ajeng Kartini untuk bangsa dan negara ini, benar-benar diwujudkan oleh wanita-wanita masa kini.***
http://cetak.bangkapos.com/opini/read/417.html 2010-04-16