Menabur Benih, Untuk Menuai Hasil..
Tak ada lagi harapan, semua sudah terlanjur.. mau dimulai dari mana lagi?? apakah masih bisa??"
ya..bergumam saja seperti itu, tanpa adanya sedikitpun action untuk membuat suatu perubahan, hanya akan membuatmu menjadi seorang yang pragmatis, yang sama sekali tak pernah peka dengan trouble yang sedang menyudutkanmu. Apa jadinya bangsa ini jika tidak pernah sedikitpun dijamah dengan yang namanya pendidikan, tak punya ilmu, dan tak tau apa yang seharusnya dilakukan, entah itu baik ataupun buruk bagimu. Apakah cukup hanya beberapa orang saja yang telah menerima ataupun mendapatkan pendidikan? Dan jawabannya adalah bisa ya ataupun tidak,..
Jika terlontar suatu ucapan tidak, itu karena kamu berfikiran bahwa pendidikan itu bisa dan harus diperoleh siapapun, tanpa memandang ras, suku, budaya, agama, materi, dan lain sebagainya.. pendidikan itu tak mengenal usia, dan tak pernah ada kata terlambat.. semua orang berhak untuk mendapatkannya.. ya.. thats right, itu adalah pemikiran yang hebat..
Tetapi apabila jawaban itu terlontarkan kata "ya".. hayooo.. salah ngga sih??
yuk kita pikir ulang kembali.. jika memang ya.. pendidikan itu cukup untuk beberapa orang saja, tapi dengan tujuan dari beberapa orang itu terlahir jiwa-jiwa yang peduli dan sangat antusias untuk menularkan ilmu-ilmu luar biasa yang telah mereka peroleh itu sungguh luar biasa.. karena dari sedikitnya jumlah orang yang mengenyam suatu pendidikan tapi dengan kesungguhan mengajak dan mengajarkan sebisa dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh beberapa orang yang berpendidikan itu, secara perlahan, sedikit demi sedikit, generasi pemikir, generasi emas, dan generasi kreatif itu akan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu yang indah, dan begitupun dengan telur-telur lainnya yang tak kalah semangatnya.. ketimbang dengan banyaknya orang-orang yang berpendidikan namun, tak ada satupun yang peduli dan sadar akan pendidikan yang telah didapatkannya, ya.. karena menganggap pendidikan itu bukanlah kebutuhan utama, dan dengan munculnya berbagai bantuan sekolah, pendirian bangunan sekolah, dari daerah terpencil sampai metropolitan sekalipun, tapi hanya sedikit sekali yang mau memikirkan nasib kedepan, harapan dan impian indah dengan pendidikan yang telah dimilikinya itu, karena mereka tidak tahu atau tak mau tahu tentang urgensi pendidikan itu sendiri.
Yuk, kita tengok kembali kondisi saat ini yang sekiranya dapat mengetuk hati yang sudah lama tertutup rapat, dan membuka cakrawala menuju perubahan nyata..
- slogan, " jika tidak ingin disebut sebagai orang sembarangan, maka jangan pernah membuang sampah secara sembarangan".. singkat dan sederhana memang, tapi dari kata-kata itulah tiga orang anak sekolah menengah atas itu mampu mewujudkan satu desa mandiri yang kreatif, inovatif, dan sadar akan lingkungan. Pendidikan tak selamanya harus mempunyai tempat dengan surat perizinan dari pemerintah, harus ada tenaga pengajar ahli dan baju seragam serta atribut pendidikan lainnya, tapi pendidikan juga bisa kita munculkan dengan adanya penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat sekitar tentang pentingnya rasa peduli dan jiwa mandiri dalam pengerjaan sesuatu yang dapat menghasilkan, baik itu materil maupun non materil. Pemanfaatan sampah dan mulai membiasakan hidup sehat dan kreatif itu diwujudkan dengan bentuk pelatihan serta penyuluhan yang dilakukan secara kontinyu oleh tiga orang siswi SMA kepada warga masyarakat yang ada di sebuah desa di kota Bekasi. Peringatan dari tiap-tiap warga masyarakat senantiasa berlangsung secara sempurna dengan sistem tegur sapa yang mendidik. Kegiatan produktif yang juga ditularkan oleh siswi kreatif ini dimulai dengan pemilahan sampah organik dan organik, dan pastinya telah menempatkan tempat sampah yang bercirikan organik dan anorganik diberbagai sudut desa, serta langsung pada kegistsn recycle barang-barang bekas menjadi barang yang bernilai artistik dan materil, tentunya dapat dijadiakan usaha kreatif dan mandiri bagi para ibu ataupun pemuda-pemudi yang putus sekolah. mulai dari hal terkecil akan membuahkan hasil yang indah.
- modal nekat dan semangat nyatanya membuat seorang sarjana pertanian di yang baru saja lulus S1 di sebuah Universitas Negeri di Indonesia, bertahan untuk merintis dan mengembangkan sekolah alam yang didirikannya di daerah jember, jawa Timur. Dengan modal lahan kecil lengkap dengan persawahan dan perkebunan, mahasiswa ini mampu menyulap lahan kecil itu menjadi sekolah alam berbasis Islamic Boarding School, dengan proses yang begitu lama dan sulit, jumlah murid yang begitu minim karena kurangnya minat dari warga sekitar untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah alam yang dibangunnya, serta sulitnya sistem legalisasi dan pengakuan oleh Dinas Pendidikan. Namun dengan kegigihan, keuletan dan kenekatannya kini ia mampu merekrut banyak murid untuk bergabung dalam sekolah alamnya, yakni dengan sistem promosi yang menarik dan kreatif, yaitu tiap perserta didik yang akan masuk ke sekolah alam miliknya wajib registrasi ulang dengan sistem penitipan atau pembayaran yang tidak mematok harga, yang penting ada jaminan dan alasan kuat dari orang tua serta murid saat ingin masuk ke sekolah alamnya serta komitmen kuat dari calon muridnya, dan sekolah itu hanya dikhususkan bagi mereka yang berasal dari golongan menengah kebawah. Sungguh sangat mulia.. Belum lagi sistem pembelajaran yang langsung terjun kelapangan, dan dengan mengutamakan praktikum pembelajaran dengan berbagai metode dan trik yang telah disusun sedemikian rupa agar anak muridnya dapat merasakan kenyamanan dan mudah memahami terhadap segala aspek pembelajaran yang diajarkan.
Yaaa.. itulah sedikit contoh konkrit kepedulian anak bangsa yang mengartikan pendidikan itu dengan cara yang indah dan berbeda, tapi tepat pada sasaran, situasi, dan kondisi yang bisa mendoktrin pikiran-pikiran positif kepada seluruh lapisan masyarakat, dan pasti visi dari mereka sama, yakni ingin memberikan yang terbaik bagi negeri tercintanya..
satu yang perlu kita camkan dalam pibadi masing-masing, bahwasanya siapa yang menaburkan benih, ia akan menuai suatu hasil.. (think and action..!!) Ganbatte kudasai...:)
by.Niken Dwi Nurlita
Mahasiswi UNTIRTA
Tak ada lagi harapan, semua sudah terlanjur.. mau dimulai dari mana lagi?? apakah masih bisa??"
ya..bergumam saja seperti itu, tanpa adanya sedikitpun action untuk membuat suatu perubahan, hanya akan membuatmu menjadi seorang yang pragmatis, yang sama sekali tak pernah peka dengan trouble yang sedang menyudutkanmu. Apa jadinya bangsa ini jika tidak pernah sedikitpun dijamah dengan yang namanya pendidikan, tak punya ilmu, dan tak tau apa yang seharusnya dilakukan, entah itu baik ataupun buruk bagimu. Apakah cukup hanya beberapa orang saja yang telah menerima ataupun mendapatkan pendidikan? Dan jawabannya adalah bisa ya ataupun tidak,..
Jika terlontar suatu ucapan tidak, itu karena kamu berfikiran bahwa pendidikan itu bisa dan harus diperoleh siapapun, tanpa memandang ras, suku, budaya, agama, materi, dan lain sebagainya.. pendidikan itu tak mengenal usia, dan tak pernah ada kata terlambat.. semua orang berhak untuk mendapatkannya.. ya.. thats right, itu adalah pemikiran yang hebat..
Tetapi apabila jawaban itu terlontarkan kata "ya".. hayooo.. salah ngga sih??
yuk kita pikir ulang kembali.. jika memang ya.. pendidikan itu cukup untuk beberapa orang saja, tapi dengan tujuan dari beberapa orang itu terlahir jiwa-jiwa yang peduli dan sangat antusias untuk menularkan ilmu-ilmu luar biasa yang telah mereka peroleh itu sungguh luar biasa.. karena dari sedikitnya jumlah orang yang mengenyam suatu pendidikan tapi dengan kesungguhan mengajak dan mengajarkan sebisa dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh beberapa orang yang berpendidikan itu, secara perlahan, sedikit demi sedikit, generasi pemikir, generasi emas, dan generasi kreatif itu akan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu yang indah, dan begitupun dengan telur-telur lainnya yang tak kalah semangatnya.. ketimbang dengan banyaknya orang-orang yang berpendidikan namun, tak ada satupun yang peduli dan sadar akan pendidikan yang telah didapatkannya, ya.. karena menganggap pendidikan itu bukanlah kebutuhan utama, dan dengan munculnya berbagai bantuan sekolah, pendirian bangunan sekolah, dari daerah terpencil sampai metropolitan sekalipun, tapi hanya sedikit sekali yang mau memikirkan nasib kedepan, harapan dan impian indah dengan pendidikan yang telah dimilikinya itu, karena mereka tidak tahu atau tak mau tahu tentang urgensi pendidikan itu sendiri.
Yuk, kita tengok kembali kondisi saat ini yang sekiranya dapat mengetuk hati yang sudah lama tertutup rapat, dan membuka cakrawala menuju perubahan nyata..
- slogan, " jika tidak ingin disebut sebagai orang sembarangan, maka jangan pernah membuang sampah secara sembarangan".. singkat dan sederhana memang, tapi dari kata-kata itulah tiga orang anak sekolah menengah atas itu mampu mewujudkan satu desa mandiri yang kreatif, inovatif, dan sadar akan lingkungan. Pendidikan tak selamanya harus mempunyai tempat dengan surat perizinan dari pemerintah, harus ada tenaga pengajar ahli dan baju seragam serta atribut pendidikan lainnya, tapi pendidikan juga bisa kita munculkan dengan adanya penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat sekitar tentang pentingnya rasa peduli dan jiwa mandiri dalam pengerjaan sesuatu yang dapat menghasilkan, baik itu materil maupun non materil. Pemanfaatan sampah dan mulai membiasakan hidup sehat dan kreatif itu diwujudkan dengan bentuk pelatihan serta penyuluhan yang dilakukan secara kontinyu oleh tiga orang siswi SMA kepada warga masyarakat yang ada di sebuah desa di kota Bekasi. Peringatan dari tiap-tiap warga masyarakat senantiasa berlangsung secara sempurna dengan sistem tegur sapa yang mendidik. Kegiatan produktif yang juga ditularkan oleh siswi kreatif ini dimulai dengan pemilahan sampah organik dan organik, dan pastinya telah menempatkan tempat sampah yang bercirikan organik dan anorganik diberbagai sudut desa, serta langsung pada kegistsn recycle barang-barang bekas menjadi barang yang bernilai artistik dan materil, tentunya dapat dijadiakan usaha kreatif dan mandiri bagi para ibu ataupun pemuda-pemudi yang putus sekolah. mulai dari hal terkecil akan membuahkan hasil yang indah.
- modal nekat dan semangat nyatanya membuat seorang sarjana pertanian di yang baru saja lulus S1 di sebuah Universitas Negeri di Indonesia, bertahan untuk merintis dan mengembangkan sekolah alam yang didirikannya di daerah jember, jawa Timur. Dengan modal lahan kecil lengkap dengan persawahan dan perkebunan, mahasiswa ini mampu menyulap lahan kecil itu menjadi sekolah alam berbasis Islamic Boarding School, dengan proses yang begitu lama dan sulit, jumlah murid yang begitu minim karena kurangnya minat dari warga sekitar untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah alam yang dibangunnya, serta sulitnya sistem legalisasi dan pengakuan oleh Dinas Pendidikan. Namun dengan kegigihan, keuletan dan kenekatannya kini ia mampu merekrut banyak murid untuk bergabung dalam sekolah alamnya, yakni dengan sistem promosi yang menarik dan kreatif, yaitu tiap perserta didik yang akan masuk ke sekolah alam miliknya wajib registrasi ulang dengan sistem penitipan atau pembayaran yang tidak mematok harga, yang penting ada jaminan dan alasan kuat dari orang tua serta murid saat ingin masuk ke sekolah alamnya serta komitmen kuat dari calon muridnya, dan sekolah itu hanya dikhususkan bagi mereka yang berasal dari golongan menengah kebawah. Sungguh sangat mulia.. Belum lagi sistem pembelajaran yang langsung terjun kelapangan, dan dengan mengutamakan praktikum pembelajaran dengan berbagai metode dan trik yang telah disusun sedemikian rupa agar anak muridnya dapat merasakan kenyamanan dan mudah memahami terhadap segala aspek pembelajaran yang diajarkan.
Yaaa.. itulah sedikit contoh konkrit kepedulian anak bangsa yang mengartikan pendidikan itu dengan cara yang indah dan berbeda, tapi tepat pada sasaran, situasi, dan kondisi yang bisa mendoktrin pikiran-pikiran positif kepada seluruh lapisan masyarakat, dan pasti visi dari mereka sama, yakni ingin memberikan yang terbaik bagi negeri tercintanya..
satu yang perlu kita camkan dalam pibadi masing-masing, bahwasanya siapa yang menaburkan benih, ia akan menuai suatu hasil.. (think and action..!!) Ganbatte kudasai...:)
by.Niken Dwi Nurlita
Mahasiswi UNTIRTA