Jumat, 21 Februari 2014

Bensin dari Sampah Plastik

1
SAMPAH plastik saat ini telah menjadi momok sangat menakutkan bagi masyarakat umumnya dan pencinta lingkungan khususnya. Plastik tidak dapat terurai dalam tanah. Itu berbeda dari sampah organik seperti sisa makanan yang sangat mudah terurai. Karena itu, dikhawatirkan sampah plastik akan menyebabkan degradasi fungsi tanah.
Sampai saat ini, plastik memang masih sulit tergantikan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari seperti kemasan makanan, tas, produk elektronik, automotif, mainan. Penggunaan plastik akan terus meningkat karena kelebihannya, antara lain ringan dan kuat, tahan terhadap korosi, transparan dan mudah diwarnai, dan sifat insulasinya cukup baik. Otomatis produksi sampah plastik terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kita masih beruntung ada para pemulung yang sedikit mengurangi timbunan sampah, untuk selanjutnya didaur ulang. Namun masih banyak sekali sampah plastik yang terbuang dan belum terselesaikan hingga saat ini. Jadi perlu solusi jangka panjang untuk mengurangi sampah plastik sekaligus dapat menghasilkan produk lain yang bermanfaat.
 

Daur Ulang

Proses daur ulang menjadi sangat populer saat ini. Namun hanya daur ulang tertentu yang selama ini dijalankan. Padahal ada banyak alternatif proses daur ulang yang lebih menjanjikan dan berprospek ke depan. Salah satunya mengonversi sampah plastik menjadi bensin. Itu bisa dilakukan karena pada dasarnya plastik berasal dari minyak bumi, sehingga tinggal dikembalikan ke bentuk semula.
Keuntungan sampah plastik adalah tidak menyerap air, sehingga kadar air sangat rendah dibandingkan sampah kertas, sisa makanan, dan biomassa. Plastik juga mempunyai nilai kalor cukup tinggi, setara dengan bahan bakar fosil seperti bensin dan solar.
Mekanisme proses intu menggunakan pirolisis, yaitu memanaskan plastik pada suhu di atas 400 derajat Celcius tanpa oksigen. Pada suhu itu, plastik akan meleleh dan berubah menjadi gas. Pada saat proses tersebut, rantai panjang hidrokarbon akan terpotong menjadi rantai pendek. Selanjutnya proses pendinginan dilakukan pada gas tersebut sehingga mengalami kondensasi dan membentuk cairan.
Gambar 1. Skema sederhana proses konversi sampah plastik menjadi fraksi bensin dan solar.
Cairan itulah yang kelak menjadi bahan bakar, baik berupa bensin maupun bahan bakar diesel. Untuk mendapatkan hasil dan performa lebih baik, ditambahkanlah katalis. Beberapa parameter sangat berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan, antara lain suhu, waktu, dan jenis katalis. Katalis dari jenis zeolit dan silica-alumina banyak digunakan dalam proses itu.

Sangat Krusial

Satu kilogram plastik bisa menghasilkan sekitar 1 liter minyak, sehingga bisa diperkirakan berapa minyak dihasilkan dari proses itu. Konversi plastik itu menjadi sangat krusial ketika makin minim tempat pembuangan sampah dan harga minyak dunia terus meningkat.
Beberapa negara telah banyak mengembangkan teknologi itu, seperti Jepang, Jerman, AS, dan India. Pabrik skala komersial pun sudah diujicobakan untuk mendapatkan performa terbaik. Sayang hingga saat ini Indonesia belum banyak mengembangkan teknologi itu sampai pada skala komersial. Padahal, bila dikembangkan, satu persoalan mengenai sampah telah terselesaikan dan ada keuntungan lain dari produksi bahan bakar yang mempunyai nilai jual.
Gambar 2. Contoh pabrik konversi sampah plastik di Jepang dengan kapasitas 15.000 ton per tahun yang dikembangkan Toshiba.
Dari sinilah perlu kebijakan pemerintah tentang pengelolaan dan pengolahan sampah plastik, sehingga bisa mendorong industri pengolahan sampah plastik mencapai skala keekonomian. Tentu itu semua perlu didukung seluruh lapisan masyarakat, khususnya dalam hal pemilahan sampah. Perlu edukasi pada masyarakat mengenai hal itu. Peran perguruan tinggi tentu sangat penting dalam mengedukasi masyarakat dan pengembangan teknologi pengolahannya. Akhirnya, sinergi semua pemangku kepentingan yang dimotori pemerintah sangat perlu demi keterwujudan lingkungan yang terjaga dan mengurangi ketergantungan pada beberapa sumber energi primer. (51)
M Syamsiro , mahasiswa doctoral di Tokyo Institute of Technology dan pengajar Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta
(Sumber : Suara Merdeka, 30 Mei 2011)

“ Sosok Dino Patti Djalal”

Memiliki intergritas, kredibilitas serta kepedulian yang tinggi terhadap bangsa merupakan suatu prinsip yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin. Mampu mengambil tindakan secara tegas, cepat dan tepat guna, just talk less do more, itupun yang sudah seharusnya muncul dari pribadi seorang pemimpin. Karena, sebelum melakukan tindakan apapun yang nantinya akan menghasilkan dampak positif yaitu dimulai dari diri kita sendiri, setelah itu merambah ke keluarga, kehidupan dimasyarakat, dan lingkup Negara, pastinya sudah tercermin dalam diri seseorang, bukan semata mata mencari penilaian dari oranglain dengan memakai topeng. Menjadi diri sendiri tanpa melakukan plagiat terhadap gaya kepemimpinan sesorang yang bermaksud untuk mengambil simpati masyarakat luas, nampaknya sudah tercermin dari seorang yang luar biasa, seorang yang sudah lama mengabdi untuk Negara dan berkomitmen tinggi untuk mengembalikan kejayaan bangsa. “Dino Patti Djalal”, nama yang sudah tak asing didengar dan tak luput dari aktivitas kenegaraan. Pria kelahiran Yugoslavia tahun 1965 ini merupakan sosok ayah yang memiliki kasih sayang yang tinggi terhadap keluarga, patuh dan amanah terhadap pekerjaannya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, serta pandai bergaul dan bersosialisasi dengan siapapun. Tak ayal bahwa sosok yang satu ini menjadi perhatian banyak awak media. Karena pekerjaannya yang mengharuskan beliau untuk berdomisili di luar negeri, lantas nama dan pamor seorang Dino Patti Djalal kurang diketahui oleh masyarakat luas. Namun, untuk kalangan pemerintah dan aparatur Negara nama Dino Patti Djalal sudah sangat memasyarakat.  Tak salah jika nama sosok yang satu ini diajukkan untuk maju sebagai salah satu calon Presiden Republik Indonesia. Sudah terlihat dengan komitmennya yang tinggi, beliau mampu untuk mengundurkan diri sebagai Duta Besar dan Pegawai Negeri sipil karena menurutnya kefokusan dan keyakinan untuk maju dalam ajang penentuan calon pemimpin Negara yang akan menanggung tanggungjawab yang besar demi memajukan dan mensejahterakan rakyatnya perlu kesengguhan, keseriusan serta persiapan yang yang matang. Dibuktikan dengan enam jurus yang telah dibuatnya dan disampaikannya dalam acara ‘1 Jam Bersama Dino Patti Djalal’ di Ballroom Djakarta Theatre, Jalan MH Thamrin, Jakpus, tanggal 17 September 2013 sebagaimana dilaporkan berbagai media:
1. Nasionalisme unggul. Kita semua nasionalis dan cinta Indonesia, tapi ketahuilah nasionalisme itu tidak hanya satu, tapi banyak,” kata Dino Patti Djalal.“Pertanyaannya bukan apakah kita nasionalis, tapi konsepnya. Bentuk apa yang kita ambil? Itu yang tentukan Indonesia jadi unggul atau tidak,” lanjutnya.
2. Internasionalisme unggul. Menurutnya cita-cita pemimpin bukan hanya membangun Indonesia tapi menguasai dunia. “Kekayaan dunia adalah bagian dari kekayaan yang harus kita perah. Kita harus melihat dunia bukan sebagai ancaman tapi lahan dan peluang,” ucapnya.
3. Meritokrasi, yaitu pernyataan yang mengacu pada kemampuan skill dan fairness. “Meritokrasi jadi agenda 5 sampai 10 tahun Indonesia ke depan,” ucapnya.
4. Regulasi. Kalau Indonesia ingin unggul maka kuncinya adalah ’smart regulation’. Ia meminta masyarakat jangan anggap remeh regulasi.
5. Pendidikan dan inovasi. Sejarah kapan dan dimanapun, buktikan diktum ini,” ujar Dino.
6. Generasi pemimpin yang kompeten. Presiden ke depan kata Dino, harus jadi presiden pendidikan dan inovasi. Tak ada pilihan lain. “Saya yakin jurus ini digunakan Indonesia untuk bisa naik ke next level,” ucapnya.
            Lebih menarik lagi Dino Patti Djalal mengatakan bukan soal kalah menang mengapa dia maju jadi calon presiden dan mundur dari jabatan dubes, tapi demi masa depan Indonesia yang lebih baik dan ingin memberikan sumbangsih bagi pendidikan politik masyarakat Indonesia. (Detik.com).
            Semoga Indonesia akan menemukan sosok yang pantas untuk menduduki kursi tertinggi dijajaran pemerintahan, sosok yang FAST (Shidiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah, sebagaimana yang tercermin dari suri tauladan kita, yakni Nabi Muhammad SAW. Mampu berjuang dengan mengedepankan kepenting rakyatnya ketimbang diri sendiri maupun kepentingan orang-orang yang telah merampas kekayaan bangsa.


 “Back to Organic Farming and Gardening”

               “Know Your Farmer, Know Your Food..” Ungkapan diatas cukup membuat kita berfikir.. berfikir dalam mengambil tindakan dan sikap untuk menghadapi tantangan saat ini dan di masa yang akan datang. Ya, terkadang kita sangat cepat dalam memutuskan segala sesuatunya, tanpa memperhatikan berbagai aspek yang akan terjadi nantinya. Gaya hidup petani yang dalam kesehariannya hanya terfokus untuk menanam, pergi ke kebun atau ladang serta melakukan proses penanaman hingga pasca panen tanpa ada ilmu khusus yang nantinya akan membawa perubahan besar dalam teknik pembudidayaannya. Konsep pertanian saat ini cenderung oriented profit, bisa memproduksi hasil-hasil produk pertanian dalam jumlah yang besar, waktu yang singkat dan memperoleh keuntungan sesuai yang diharapkan, namun tidak memperhatikan proses-prosesnya. Sebenarnya jika kita menyadari bahwa kehidupan di dunia ini adalah suatu keterikatan antara makhluk hidup yang di ciptakan oleh Nya, baik itu manusia, hewan, maupun tumbuhan, sehingga pentingnya kesadaran dan kefahaman dari masing-masing individu untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa terkecuali.
            Jika saja kita sadar akan kesehatan dan keseimbangan lingkungan hidup, tentunya tidak perlu lagi untuk berfikir ulang dalam memilah jenis pertanian serta cara bercocok tanam yang dapat memberikan kebermanfaatan bagi semua pihak, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, diperlukan suatu komitmen bagi pelaku pertanian sebelum dan pada saat menjalankan aktivitasnya. Komitmen tersebut diantaranya komitmen kepada Tuhan yaitu dengan menjunjung tinggi etika dan moral organik, komitmen kepada sesama dengan menyiapkan produk dan lingkungan kerja yang sehat dan “aman”, serta komitmen kepada alam dan seisinya yaitu dengan melestarikan kembali lingkungan agar tercipta ekosistem alami yang berkesinambungan.
Untuk saat ini, sudah terdapat sebuah perkebunan yang menerapkan konsep dan prinsip organik dalam pelaksanaannya, yaitu FAM Organic, tepatnya di Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Bidang usaha yang dijalankan berbasis eco socio culture yang peduli terhadap perbaikan dan pelestarian lingkungan, serta dengan basis organik karena hanya dengan perlakuan organik prinsip perbaikan dan pelestarian lingkungan dapat diterapkan, untuk mewujudkan misi sosialnya yaitu dengan memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya kesehatan masyarakat, kesehatan keluarga, dan kesehatan lingkungan melalui pendekatan organik, sesuai dengan semboyan “di tanah yang sehat akan tumbuh tanaman yang sehat”.
Konsep bercocok tanam secara organik tidak selalu terfokus untuk lahan yang luas serta daerah yang mendukung kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dimanapun tempatnya, asalkan tetap mengarah pada perlakuan organik, maka proses menanam pun bisa dikerjakan, termasuk dihalaman rumah yang terbilang sempit sekalipun, yang terpenting adalah adanya kemauan dan memegang prinsip kepraktisan, yakni mampu memanfaatkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bercocok tanam dengan menggunakan bahan ataupun barang yang sudah tersedia dirumah, sehingga tidak membatasi keinginan kita untuk bercocok tanam pada saat merasa ada salah satu alat atau perlengkapan yang tidak dapat dipenuhi. Dengan memulai aktivitas berkebun di halaman rumah maka akan terbentuk kreativitas dan fleksibilitas yang luas. Masyarakat akan semakin pintar dan cerdas dalam bertindak ketika mereka mampu untuk mewujudkan kondisi yang dapat membuat kenyamanan, keamanan, dan terciptanya kepedulian akan kesehatan keluarga, masyarakat, dan lingkungan hidup di masa kini dan masa depan.
Dapat dilihat bahwa produk asli maupun olahan yang dihasilkan dari produk pertanian sama saja, hanya saja yang membedakannya adalah proses penanaman yang dilakukan hingga pada pasca panen. Ada yang menggunakan sistem konvensional dan ada pula yang dengan sistem organik. Keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Produk organik diperoleh dari hasil pertanian atau peternakan dengan perlakuan secara organik dan pastinya bahan baku yang digunakan berasal dari bahan-bahan organik. Sedangkan produk natural diperoleh dari bahan-bahan alami, tetapi tidak harus organik, bisa saja hasil pertanian atau peternakan konvensional, hidroponik, atau bahkan genetically modified organism. Jadi jelaslah bahwa produk hasil pertanian organik memiliki tingkat residu yang rendah daripada produk natural, karena salah satu karakteristik dari hasil pertanian organik adalah tanpa menggunakan pupuk atau pestisida berbahan kimia, sedangkan produk natural yang dikembangkan dengan sistem non organik, tentu penggunaan bahan-bahan kimia bisa saja digunakan sehingga residu yang dihasilkan dari produk pertaniannya memiliki tingkat yang variatif sesuai dengan sistem yang diterapkannya.
Terlihat jelas bahwa banyak sekali manfaat yang akan kita rasakan pada saat suatu sistem yang dibangun didasarkan kepada kebermanfaatan untuk semua makhluk hidup tanpa membeda-bedakan atau dapat dikatakan mampu memberikan kesan adil terhadap semua, pasti akan menghasilkan sesuatu yang indah dan jauh lebih baik. Berkebun dan bercocok tanam dengan perlakuan organik telah memberikan bukti dan dampak yang dapat menjawab semua tantangan dimasa kini dan masa yang akan datang, yaitu dengan meyakini bahwa keluarga sehat tentunya dengan makanan yang sehat, dan lingkungan sehat tentunya dengan kegiatan yang sehat pula, mengembalikan kesehatan lingkungan, khusunya daerah perkotaan, serta meningkatkan ketahanan ”pangan” dan “kesehatan” nasional.
Maka dari itu, mari mulai mengenali petani kita, petani yang unggul tahu mana proses pertanian yang terbaik untuk dikelola, tahu hasil yang pertanian yang baik untuk diproduksi dan dikonsumsi oleh konsumennya, dan tahu akan keseimbangan dan kelestarian alam sekitar serta mampu menciptakan lingkungan hijau yang sehat, asri, dan bersih. Bila dilihat dari keseluruhan deskripsi diatas, itu semua merupakan prinsip, dam aspek yang melandasi aktivitas petani yang sesungguhnya. J
           







Penulis : Niken Dwi Nurlita
Mahasiswi tingkat akhir Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
FB : Niken Dwi Nurlita Tebekers
Twitter : @dwinur_niken
Email : arashynick@yahoo.com
Blog : arashynick.blogspot.com

No HP : 089657935975