Selasa, 15 Januari 2013

siang itu mentari sepertinya mulai beranjak dari hibernasinya setelah sejenak mengistirahatkan diri untuk memberikan kesempatan kepada si abu-abu membersihkan bumi karena sudah lama bertumpuk kotoran yang benar-benar harus dibersihkan. namun abu-abu terlalu bersemangat untuk membersihkan bumi dan menuangkan airnya dalam jumlah yang besar hingga tanah pun tak mampu lagi untuk menampungnya.
sebenarnya, bukan kita harus menyalahkan kepada mentari atau si abu-abu yang kini sedang menjadi tamu kita, tapi inilah yang memang pantas kita rasakan. ingat kemarin-kemarin dengan seenaknya kita membuang sampah disembarang tempat pada situasi dan kondisi apapun, ingat saat rindangnya pohon dihutan tiba-tiba saja ditebang secara berlebihan, ingat saat limbah pabrik dengan begitu mudah dan cepatnya mengalir dengan aliran sungai, ingatkah semua itu..??
alam dan semesta pun punya rasa, mereka merasakan bagaimana saat kita mencampakan dan tidak begitu mempedulikan keseimbangan lingkungan dan kehidupan, mereka telah menyediakan karuniaNya yang begitu melimpah untuk dipergunakan secara bijaksana dan tetap menjaga kelesatariannya bagi kehidupan manusia. namun balasannya hanyalah kerusakan dan kerusakan secara terus menerus, tidakkah berfikir panjang jikalau suatu saat nanti apa-apa yang kita butuhkan sudah tak ada lagi persediaanya? bagaimana rasanya jika bencana demi bencana silih berganti menimpa tiada henti. sudikah kamu untuk sedikit bersimpati pada alam kita? lingkungan kita? tempat munculnya peradaban manusia? sudikah???
sedikitnya tindakan bermanfaat yang kita lakukan apabila dihitung secara keseluruhan sesuai dengan jumlah orang yang ada di seluruh dunia, tentunya akan menjadikan kondisi bumi kita, lingkungan kita, tempat hidup kita menjadi lebih baik lagi, bisa bernafas dengan lega kembali. dan begitupun dengan kita yang langsung merasakannya.
becuase....i'm care,,,
how about u??

Jumat, 04 Januari 2013



            Sampai saat ini belum ada pemecahan yang tuntas dalam penanganan sampah, baik sampah organik maupun an organik. Ditiap sudut jalan maupun di tiap penjuru rumah dan dimanapun itu, sampah seakan telah menjadi pemandangan khas yang menjadi panorama. Banyaknya tempat penampungan sampah yang telah disediakan oleh pemerintah pusat disetiap daerah, sampai di jalan-jalan maupun tempat-tempat umum lainnya ternyata belum bisa mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan oleh manusia tiap harinya. Hal ini disebabkan oleh pemenuhan kebutuhan manusia akan bahan pangan yang dikonsumsi dengan tidak seimbangnya kesadaran akan pembuangan sampah yang tepat, tanpa harus menempatkan sisa – sisa makanannya di sembarang tempat. Karena sebagian besar sampah yang dibuang secara sembarangan adalah sampah an organik, maka sulit sekali bagi tanah untuk diurai, dan pada akhirnya daratan bumi ini terlihat bak lautan sampah yang membentang luas.
            Lalu, apakah dengan kondisi yang sudah terlanjur seperti ini akankan kita masih terdiam bahkan pasrah dan berkata, mau di apakan lagi? Toh berbagai cara telah dilakukan tapi belum ada satupun yang dapat menjadi alternatif? Hanya sebatas itu sajakah pemikiran kita? Tak adakah hasrat/keinginan untuk terus menggali dan mencari tahu kunci pemecahan dari masalah yang tidak bisa begitu saja kita katakan sebagai suatu hal yang lumrah? Saatnya kita bergerak tanpa harus saling menyalahkan atau bahkan melimpahkan tugas kepada pihak yang diandalkan untuk mengurusi masalah seperti ini. Tanamkan dan tekadkanlah dalam diri masing-masing bahwasannya ini adalah tugas dan tanggungjawab bersama, tanpa memunculkan ego dan memikirkan kepentingan masing-masing.

Langkah apa yang harus dimulai..??
            Jika berbicara mengenai konsepan atau teknis pelaksanaan untuk membuat suatu gerakan dan perubahan, tentunya tidak akan menhasilkan apa-apa, jika diiringi dengan tindak nyata dan kesadaran serta tekad yang kuat untuk menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, dan sejahtera. Tak perlu membuat terobosan yang baru atau solusi yang harus disepakati dan difikirkan secara matang kembali. Mari kita menilik dari kekurangan serta apa saja yang masih belum diselesaikan mengenai program-program yang telah ada dan dibuat sebelumnya. Tak jauh dari usaha yang telah dilakukan sebelumnya, ternyata dapat kita lanjutkan dan kembangkan kembali apa-apa yang harus dibenahi mulai dari sekarang. Dimulai dari hal – hal yang kecil dan dikerjakan secara gotongroyong pasti kita bisa memberikan perubahan terhadap pola dan cara pandang setiap orang.
Dari sampah menjadi berkah..
            Apabila kita cermat dalam memilah jenis-jenis sampah yang dihasilkan dari berbagai macam jenis penganan yang dikonsumsi sehari-hari ataupun dari detergen ddan minyak wangi, dan apapun produk yang digunakan, dan selanjutnya akan menjadi sampah, semua bahan-bahan an organic yang awalnya sangat membahayakan keindahan dan kelestarian lingkungan, tetapi jika kita mampu mengolah dan mendaur ulang (resycle) sampah – sampah tersebut menjadi bahan-bahan berdaya guna serta bernilai estetis dan ekonomis tinggi. Tak perlu menguras tenaga dan mengeluarkan banyak uang untuk melakukan pengolahan dan mendaur ulang sampah, hanya dengan kesabaran,  keikhlasan dan menyisihkan waktu sedikit demi sedikit untuk mulai membuang sampah dan mengajarkan serta mengajak kepada anak-anaknya, keluaranya, tetangga, hingga sanak saudara untuk senantiasa membuang sampah pada tempatnya, tentunya dengan membedakan tempat pembuangan sampah antara sampah organic dan an organic, selanjutnya, dapat dengan mudah kita pisahkan antara kedua jenis sampah sehingga dalam proses pendaur ulang menjadi barang-barang berdaya guna, dapat lebih mudah untuk mengolahnya.
            Sampah an organic, seperti plastic, kaca-kaca, kaleng, kertas-kertas, dan sebagainya bisa didaur ulang menjadi souvenir cantik dan lucu. Misalnya anekaragam tas, dompet, tempat pinsil, lampion, hiasan kaca atau jendela, kertas file, jepitan, bros, dan masih banyak lagi lainnya. Begitupun dengan sampah organic yang dapat dijadikan pupuk hijau atau kompos, yakni dengan menyiapkan lahan khusus untuk lahan pertanian atau bercocok tanam agar pupuk yang dihasilkan dapat langsung digunakan.




Mengapa harus Bank Sampah..??
            Sulitnya penyediaan tempat yang digunakan untuk menampung sampah yang jumlahnya membludak, membuat kita berfikir panjang untuk menemukan solusi yang tepat. Maka dari itu, terbesit ide untuk mendirikan bank sampah. Sebenarnya Bank Sampah telah banyak diberdayakan oleh sebagian orang di beberapa daerah, namun belum ada tindak lanjut atau realisasi yang dapat dijadikan sebagai contoh atau penggagas untuk daerah yang belum mengetahui secara pasti apa itu bank sampah. Sosialisasi merupakan pemecahan yang setidaknya bisa menumpas kepincangan sosial yang menjadi rubik pembicaraan yang tiada hentinya. Konsep yang ditawarkan bank sampah disini yaitu mengadopsi dari keberhasilan dan keberlanjutan desa badegela, bantul, Yogyakarta, yang telah mampu bertahan bahkan berkembang pesat sebagai satu-satunya Bank yang melayani penyetoran atau menabung dengan sampah. Tata cara menabung di Bank Sampah sama halnya menabung di Bank konvensional. Penabung menerima slip setoran, kemudian nasabah dibayar sesuai jumlah sampah yag ditabung. Biasanya kan orang membuang sampah membayar, sedangkan di Bank Sampah malah di bayar. Sampah-sampah tabungan dipilah dalam tiga kelompok, yakni sampah kertas, plastic, dan botol. Setiap nasabah memiliki “brankas” berupa karung besar, juga diberi nomor rekening untuk mengatur pembukuan dan setoran, sampah – sampah kemudian diambil para pengepul per tiga minggu. Para pengepul memberikan nilai ekonomis dengan membeli sampah setoran para nasabah. Catatan nilai rupiah lalu dicocokkan dengan bukti setoran, baru kemudian dibukukan. Harga sampah dari warga bervariasi, tergantung klasifikasinya, kertas karton misalnya dihargai Rp2.000 per kilogram dan kertas arsip Rp 1.500 per kilogram, serta harga plastik, botol dan kaleng disesuaikan dengan ukuran.
.

http://www.vhrmedia.com/2010/ngadimin/form/kakafile/Images/kisah/11_November_2011/bank%20sampah%203.jpg

            Pencairan tabungan biasanya disesuaikan dengan keinginan para nasabah, dan hasil yang diperoleh sesuai dengan jumlah sampah yang dikumpulkan. Selain dijual ke pengepul, sampah anorganik seperti plastik dan styrofoam bisa digunakan untuk bahan kerajinan dari sampah. Perajinnya masyarakat sekitar. “Barang berdaya guna itu dijual di distro bank sampah. Mulai dari tas, rak folder, hingga dompet dari bahan sampah plastik”.
Nasabah bank sampah perseorangan dan komunal. Sistem bagi hasil untuk nasabah perseorangan, 85 persen untuk nasabah dan 15 persen untuk operasional. Sedangkan nasabah komunal, nilai bagi hasilnya 30 persen untuk petugas pengambil sampah dan 70 persen untuk nasabah.“Nilai bagi hasil nasabah komunal lebih sedikit, mengingat bagian 30 persen diberikan kepada pengambil sampah komunal. Sedangkan nasabah perseorangan menabung sampah dengan mengantar sendiri ke Bank. Selain itu, dibentuk pula struktur dan pembagian kerja agar pengelolaan Bank Sampah dapat berjalan dengan baik, yakni adanya direktur, wakil direktur, sekretaris, bendahara dan teller. Meski dikelola secara terstruktur, para pemangku jabatan tidak memperhitungkan gaji, karena Bank Sampah tidak bertujuan profit.
            Nah, dari pemaparan dan prospek kedepan, dapat dikatakan bahwa dengan adanya Bank sampah utamanya dimaksudkan untuk mengubah perilaku masyarakat untuk dapat memilah sampah antar sampah organic dan an organic khususnya dan umumnya dapat membentuk karakter atau pribadi yang peduli akan keadaan (kebersihan, keindahan, serta kesehatan) lingkungan sekitar. Mulailah membiasakan dari hal-hal yang kecil, yaitu membuang sampah pada tempatnya dan memisahkan antara sampah organic dan an organic serta membentuk jiwa yang kreatif dan inovatif yang timbul dalam pribadi tiap-tiap orang untuk selalu berkarya, khususnya dengan memanfaatkann dan mendaur ulang sampah.


Dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia, umat Muslim tidak terlepas dari sistem pemerintahan demokrasi yang berlaku di negeri ini. Demokrasi pada dasarnya selaras dengan syariat Islam. Dalam Islam, konsep musyawarah sangat diprioritaskan dalam hal pengambilan sebuah keputusan atau penentuan suatu kebijakan. Pada sistem demokrasi juga sangat dijunjung tinggi proses diskusi atau musyawarah untuk mencari kemufakatan dalam penetapan langkah yang akan dilakukan negara atau penguasa, yang tentunya berimplikasi pada seluruh komponen negara. Dalam syariat Islam, diajarkan bahwa pemimpin umat harus memegang teguh asas kejujuran dan keadilan dalam menjalankan tugas dan amanah yang dipercayakan padanya. Tidak berbeda halnya yang terjadi pada sistem demokrasi, seorang penguasa juga diwajibkan menerapkan prinsip kejujuran dan keadilan untuk memimpin rakyat menuju kemakmuran. Pada intinya, sesungguhnya nilai-nilai yang terkandung dalam demokrasi adalah terkandung dalam Islam, dan nilai-nilai syariat Islam terakomodasi dalam demokrasi. Sebagai gambaran, kota Jakarta, ibukota negara kita saat ini sedang menapaki proses pemilihan pemimpin. Bagi sebagian pihak, Jakarta layak dipimpin oleh sosok putera daerah yang sudah sangat mengenal kota besar ini luar dan dalam. Bagi sebagian yang lain, Jakarta bukanlah milik rakyat yang berasal dari suku atau ras Betawi semata, melainkan sudah dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia. Dengan pemahaman itu, sudah selayaknya Jakarta tidak diidentikkan dengan orang Betawi. Siapa pun calon pemimpin yang mumpuni dan berniat baik untuk memperbaiki Jakarta, sah dan pantas untuk memimpin Jakarta. Baik calon pemimpin ibukota negeri ini diusung melalui jalur partai politik maupun yang berjuang secara mandiri tanpa kendaraan partai politik, selama ia memiliki visi dan misi yang ampuh untuk menertibkan kesemrawutan Jakarta, maka dirinyalah yang paling tepat menjadi pemimpin. Ungkapan-ungkapan di atas bukanlah kalimat sumbang yang tanpa dasar. Tuhan yang menciptakan alam semesta yang begitu besar ini, Allah SWT, sejak lebih dari 15 abad silam telah mengisyaratkan dan mengajarkan kepada umat manusia pedoman memilih pemimpin suatu kaum. Allah SWT berfirman: “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 247).
Dari ayat tersebut, kita mendapatkan pelajaran yang sangat berharga bahwa kaidah pemilihan pemimpin yang selaras dengan kehendak Tuhan adalah hendaknya kita memilih calon yang memiliki kekuatan dalam hal ilmu dan jasmani, bukan calon pemimpin yang melimpah hartanya. Pemimpin sebagaimana kita ketahui ialah pelaku utama pengelolaan seluruh sumberdaya yang dikandung dan dimiliki oleh wilayah yang dipimpinnya. Tanpa berbekal ilmu yang memadai tentang manajemen pengelolaan sumberdaya, rakyat tidak akan terbawa menuju kemakmuran dan kesejahteraan melainkan akan terpuruk ke jurang kemiskinan dan kehancuran. Pemimpin ialah orang terdepan dalam menyingkirkan rintangan dan berbagai permasalahan dalam perjalanan menuju kemakmuran. Jika kekuatan fisiknya tidak mencukupi untuk mengimbangi terpaan badai permasalahan, maka bukan saja ia tidak akan memimpin rakyat menuju kesentosaan, lebih dari itu ia bahkan tidak akan dipandang sebagai pemimpin oleh rakyatnya. Keluasan atau bastah pada bidang ilmu dan kekuatan jasmani yang disebutkan dalam ayat di atas menyiratkan bahwa betapa kedua faktor tersebut sangatlah vital menjadi tolok ukur kriteria pemimpin yang ideal. Bastah pada bidang ilmu meliputi segala pengetahuan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan. Bastah dalam arti kekuatan fisik tidak selalu identik dengan tubuh sang pemimpin yang gagah, tinggi, kekar dan berotot. Imam Al-Hafiz Ibnu katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa pemimpin yang dianugerahi bastah dalam ilmu dan kekuatan jasmani secara umum berarti lebih berpengetahuan daripada kebanyakan orang, lebih kuat daripada khalayak umum baik fisik maupun kesabarannya, lebih sempurna ilmu dan akhlaknya serta berkekuatan yang super kuat baik badan maupun jiwanya. [Ibnu Katsir: Tafsir Al-Quran Al-Adzim (Riyadh: Dar At-Tayyibah, 2009), 670].
Jika kita mencermati rangkaian ayat demi ayat (ayat sebelum dan sesudah Al-Baqarah 247), maka kita dapat melihat betapa kemenangan yang besar berhasil diraih oleh masyarakat yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang sesuai dengan panduan pemimpin ideal yang dijelaskan pada ayat ke-247. Sebaliknya, kita juga akan menemukan betapa penyesalan, kesengsaraan, serta kehancuran selalu meliputi masyarakat yang memilih pemimpin sekehendak mereka sendiri tanpa standard fit and proper seorang pemimpin ideal yang telah dijelaskan dalam ayat ke-247. Sungguh kemenangan atau kemakmuran serta kesengsaraan adalah dua muara pilihan yang akan dilalui oleh dua macam kaum. Kaum jenis pertama yang berupaya keras mendapatkan pemimpin yang berbekal keluasan ilmu dan kekuatan kemudian berserah diri kepada Allah SWT akan menuju muara kemenangan. Sedangkan kaum jenis kedua yang ceroboh menentukan pemimpin serta banyak berangan-angan meminta segala kebutuhan dipenuhi oleh Tuhan padahal mereka belum berusaha, mereka akan bermuara pada lembah kehancuran. Setelah kita melalui proses pemilihan pemimpin yang paling sempurna bastah-nya dalam bidang ilmu pengetahuan dan kekuatan, maka kewajiban kita tidak lain adalah mentaatinya. Kepatuhan kepada pemimpin ditempatkan oleh Allah SWT di bawah ketaatan kita kepada Allah dan Rasulullah SAW secara langsung. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 59).
Jumhur ulama menyepakati bahwa istilah ulil amri sangat dekat merujuk kepada pemerintah yang sah yang memiliki wewenang untuk memerintah suatu wilayah, atau dengan kata lain ulil amri ialah pemimpin yang telah kita pilih setelah kita seleksi seberapa jauh bastah-nya dalam bidang ilmu dan kekuatan seperti yang dijelaskan dalam ayat ke-247 dari Surat Al-Baqarah di atas. Anjuran mentaati pemimpin yang sah juga ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW melalui sebuah riwayat hadisnya: “Dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW beliau bersabda, “Barangsiapa taat kepadaku maka dia telah taat kepada Allah dan barangsiapa maksiat kepadaku maka dia telah maksiat kepada Allah, dan barangsiapa taat kepada amir (gubernur)-ku maka dia telah taat kepadaku dan barangsiapa maksiat kepada amir (gubernur)-ku maka dia telah maksiat kepadaku” (HR. Muslim). Selanjutnya, yang perlu kita ingat adalah kita harus senantiasa mematuhi perintah atau kebijakan pemimpin selama pemimpin tersebut tidak memerintah kita untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada ketaatan dalam hal bermaksiat kepada Allah” (HR. Muslim). Marilah kita memilih pemimpin yang luas ilmunya serta kuat pendirian dan jiwanya, dan setelah itu marilah kita bantu pemimpin kita dalam membina masyarakat kita dengan cara mematuhi perintahnya.
Wallahu a’lam bis shawab.


                              Matahari belum sempat menampakkan dirinya dibelahan bumi, ibu telah membangunkan lelapnya tidurku. “nak..ayo nak, bangun.. segera sholat subuh dan bawa perlengkapan sekolahmu, mobil losbak sudah menanti kita didepan rumah.. tegur ibu. “hoaamm..masih sangat mengantuk bu..mataku sulit sekali rasanya untuk terbuka lebar.. jawabku. Ayo nak, janganlah bermalas-malasan. Masih ingatkah pesan ibu..? sejenak aku bergegas untuk sholat subuh dan merapihkan perlengkapan sekolahku, sambil terbayang-bayang pesan dan rintihan ibu  “kamu harus menjadi orang sukses, jangan seperti ayah dan ibumu, sedetikpun waktu yang terbuang maka berjuta rezeki yang seharusnya datang padamu, semuanya akan pergi menjauh”. Setelah semuanya selesai akupun lekas menaiki losbak yang penuh dengan sayur mayur dan beberapa orang yang hendak menjajakan sayurannya dipasar, termasuk ayah dan ibuku. Aku duduk dipaha ayah, sedang ibu menggendong adik bayiku. Ya.. inilah aktivitas keluargaku tiap harinya, keluarga kecil yang sederhana, tapi aku sangat bahagia dan senang menjalaninya. Ibu dan ayah selalu mengajarkanku hidup yang sangat sederhana dan kerja keras dalam setiap usaha yang dijalankan, tak perlu malu dan ragu selama pekerjaan itu tidak merugikan orang lain dan menyimpang dari norma agama dan hukum. Ayah dan ibu bukan dari kelurga yang berada, pendidikannya hanya sampai menengah pertama, tetapi walaupun begitu ayah maupun ibu selalu menemani dan mengajarkanku membaca, menulis, berhitung, sesuai dengan kemampuannya. Aku bangga dan beruntung mempunyai orangtua seperti mereka, belum lagi dukungan dari kerabat ayah dan ibu, sesama pedagang sayur yang setiap harinnya bersamaku dan keluargaku yang selalu memberi dukungan serta motivasi tiada henti padaku, sehingga jiwa dewasa itu muncul pada diri gadis kecil berusia 8 tahun.. dan itulah aku. Sesampainya dipasar, ayah juga ibu tak begitu saja sarapan atau istirahat sebentar, mereka langsung membuat tenda dari terpal dan menempatkan sayur mayur pada posisi yang begitu rapi, sementara tugasku menemani adik bayiku yang tertidur lelap sembari memilih bawang merah, tomat  ataupun cabai mana yang masih bagus, besar-besar  dan yang busuk atau  tak layak untuk dijual, ibu dan ayah yang mengajariku untuk menjual barang yang bagus dan baik untuk para pembeli agar mereka tidak kecewa. Ya, lagi-lagi poin plus itu aku dapatkan dari ayah dan ibu. Gotong royong, bahu membahu antar ayah, ibu, dan aku, itupun menjadi penilaian terbaik yang semuanya aku tuliskan di buku kecil (diaryku).
                        Tepat pukul 06.30 wib aku sudah mengganti pakaianku dengan seragam sekolah, ibu menyiapkan sebungkus nasi uduk untukku beserta sebotol air putih untuk sarapan disekolah, sementara ayah sedang sibuk melayani pelanggan sambil sekali-kali melihat kondisi adikku yang masih terlelap dalam tidurnya. Segera aku bergegas pergi menuju sekolah, karena aku harus menempuh waktu 15 menit untuk sampai kesekolah, aku tak mau terlambat, karena aku sudah terbiasa datang tepat waktu bahkan 10 menit sebelum bel tanda masuk berbunyi. Terkadang saat nyaris aku terlambat ke sekolah ibu selalu memberi uang lebih untuk ongkos ojek menuju sekolah, tapi aku enggan untuk menggunakannya selama kaki ini masih kuat untuk berjalan bahkan berlari. Aku kembalikan saja uang itu kepada ibu. Uang jajanpun tak pernah aku jajankan, uangnya selalu kutabung untuk membantu ibu dan ayah membayar uang sekolah selepas aku lulus dari sekolah dasar ini. Ilmu menghitung yang ayah ajarkan padaku juga saat aku melayani para pembeli baik dalam jumlah kecil maupun besar yang harus menggunakan kalkulator dagang ayah telah ayah ajarkan padaku walaupun aku lebih nyaman menghitung dengan kecepatan jari dan logika akhirnya menular dan mempermudah aku dalam mata pelajaran matematika dan hitungan lainnya, aku begitu senang dan cepat saat ibu guru memberi soal-soal seputar hitungan ketimbang mata pelajaran non eksak yang harus menghafal, tapi tak menyurutkan semangatku untuk berusaha belajar menghafal juga. Dari situ aku belajar, sungguh tak berani rasanya untuk berbohong atau menipu pembeli saat aku melayani mereka di kios kecil ibu dan ayah dipasar, karena ayah selalu berkata padaku jika penjual jujur maka pembeli akan senang dan percaya kepada kita. Akupun telah melihat kepastiannya dengan melihat pelanggan setia ayah yang selalu belanja di kios kami, dan dengan bertambahnya pembeli baru, itu adalah balasan bagi para penjual jujur dan benar.
                        Saat hari libur dari pagi hingga siang hari aku membantu ayah dan ibu berjualan dipasar. Karena adik bayiku memang sedang rewel – rewelnya, ibu akhirnya harus menggendong dan mengasuh adik seharian, ayah percaya aku bisa membantunya untuk menjaga kios dan melayani pembeli. Dengan senang hati aku melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh ibu. Aku memperhatikan dengan seksama apa yang ayah lakukan, mulai dari menimbang sayuran dan lainnya dengan menawarkan kembali kepada pembeli untuk menguji kebenarannya hingga pemberian harga, semuanya tidak ada yang protes dan bahkan ada yang menitip beberapa kilo tanpa minta untuk diukur kembali karena pembeli itu telah langganan dan sangat percaya sekali kepada ayah, dan tetap ayah menitip pesan kepada pembelinya, jika timbangan ada yang kurang sedikitpun tolong segera beritahu saya, biar saya berikan kurangnya, itu yang selalu ayah katakan kepada para pembeli. Betapa kagumnya aku memiliki ayah sepertinya, yaaa.. ayahku seorang pedagang sayur mayur yang jujur.
Ketika asyik melihat ayah dan melayani beberapa pembeli, tiba-tiba ayah menyuruhku untuk memberikan cabai merah yang telah ayah sediakan dalam kantung plasti yang berukuran besar kepada salah satu kerabatnya, pedagang sayur-mayur pula tapi letak kiosnya berseberangan dengan kios ayah, segera aku mengantarkannya. Sesampainya ditempat kerabat ayah itu, lekas aku menyapa paman dan memberikan amanah yang diberikan oleh ayah, namun beliau sedang asik melayani pembelinya yang lumayan banyak. Akhirnya aku menunggu hingga paman selesai melayani pembelinya, aku sangat senang memperhatikan semua yang pedagang yang melayani pembelinya, layaknya aku memperhatikan ayah. Entah mengapa tatapanku tertuju kepada timbangan yang kulihat tidak wajar, ayah sempat member tahuku mengenai timbangan yang sesuai dan timbangan yang salah atau dengan maksud mencurangi pembelinya, aku coba mendekat dan memperhatikan dengan seksama kembali untuk kedua kalinya, dan memang benar, timbangan itu telah dirubah dari bentuk aslinya. Paman menatapku tajam sambil berkata “itu dari bapakmu ndo? Yowis, sampaikan terimakasih paman untuk bapakmu yo.. sambil terburu-buru mengambil dan menyimpan barang dagangannya itu kedalam kiosnya. Aku seperti dipersilahkan untuk pergi dari kios paman, bergegaslah aku menuju kiosku, dan ketika sampai di kios, aku langsung menceritakan kejadian itu kepada ayah, awalnya ayah tak percaya dan sempat menasihatiku untuk tidak berprasangka buruk kepada siapapun, termasuk kepada kerabatnya, namun setelah aku menjelaskan kembali secara detail dan rinci akhirnya ayah mau mendengarkan perkataanku.
Keesokan harinya saat aku pulang dari sekolah, kebetulan aku melewati kios milik paman, teman ayah yang kemarin aku mengunjunginya. Tumben kiosnya ramai, penasaran dan segeralah aku mendekat menuju kiosnya, dan ternyata ada salah satu pembeli yang protes dan tau aksi kecurangan paman melalui timbangannya. Pembeli itu ngotot meminta kejujuran dan tanggung jawab atas apa yang telah dilakukan paman, namun paman masih saja mengelak bahwa beliau tidak melakukan kecurangan apapun, tiba-toba ayah datang dan mencoba menenangkan suasana. Kebetulan ayah membawa kentang yang baru diambilnya dari agen dan ternyata ibu pembeli itupun sedang mempermasalahkan kentang yang dibelinya, spontan ayah menambahkan beberapa butir kentang yang dibawanya dan meminta maaf kepada pembeli bahwa paman hasyim (nama asli kerabat ayah itu) sedang khilaf dan lupa hanya memasukan beberapa butir saja. Dan pada akhirnya ibu pembeli itu mau mengerti dan memaafkan paman hasyim. Syukurlah ada bapak ini, dan maaf jika tadi perkataan saya terlalu kasar dan keras, ya namanya juga sedang emosi pak, sahut ibu pembeli. Iya bu, sama-sama kita saling mengingatkan saja, jika kami selaku penjual melakukan kesalahan tolong segera tegur dan ingatkan kami, karena kami juga manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan salah.. sapa ayah. Dengan senyum ikhlas ibu pembeli itu menjawab pernyataan ayah.
Setelah semuanya sepi, aku menemui ayah. Sambil mencium kedua tangan ayah kupeluk ayah dengan erat. Terimakasih ayah, atas apa yang telah engkau ajarkan padaku, banggaku pada ayah. Ayah segera menjabat tanganku pergi, tapi tak lupa ayah meminta izin kepada paman hasyim untuk lekas kembali ke kios kami. Tiba-tiba paman hasyim memeluk ayah dengan erat. Terimakasih..terimakasih..saudaraku, atas pertolongan dan teguran yang kau tunjukkan padaku tadi, kini aku sadar dan sangat menyesal,tak akan kuulangi lagi perbuatan seperti itu, aku janji.. ayah begitu senang mendengar perkataan kerabatnya sambil membalas, “ya saudaraku, sudah sepatutnyalah kita saling menegur dan mengingatkan, segera bertaubat dan mintalah ampun kepadaNya, karena sekecil apapun kecurangan yang kita lakukan pasti akan ada balasan bagi mereka yang telah melakukannya, baik itu didunia maupun di akhirat. Apalagi kita yang berprofesi sebagai pedagang, memang benar-benar diuji kejujuran dan kesabarannya, barang siapa yang lulus dari semua ujian tersebut, maka Allah akan meninggikan derajat keimanan dan ketaqwaannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung. Oleh karena itu, tanamkanlah selalu sikap jujur dan bijaksana dalam mengambil setiap tindakan dan keputusan, jangan terbawa oleh kondisi dan situasi yang seringkali menyudutkan kita. Bersabarlah dan terus ikhtiar, karena rezeki setiap orang itu telah diatur olehNya, dan tidak mungkin tertukar, dengan syarat orang itu harus jujur, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas.. “subhanallah..” bersamaan aku dan paman hasyim memuji asmaNya.
Ayah..kau adalah segalanya bagiku, tak kalah seperti ibu, engkau telah mengajarkan banyak arti kehidupan bagi si gadis kecil ini, yang masih ingin tahu dan terus mencari tahu tentang apapun yang dilihat dan dialami, karena engkau ayah yang hebat, ayah yang luarbiasa.. kini aku yang kecil menjadi tau semua yang baik dan seharusnya aku lakukan dengan tindakan atau perbuatan yang engkau perlihatkan dan contohkan kepada anakmu ini.. dan kini aku paham makna kejujuran yang sesungguhnya… Terimakasih AYAH.. ^_^


KITA BISA..’’

Bersama kita genggam satu tujuan..
Tanpa adanya masalah, semua tak kan indah
Berjalan begitu saja tanpa arah yang melintang

Aku, kamu , dan kita
Adalah penerus bangsa muda
Yang seharusnya terus dan terus menyongsong
Persatuan dan kesatuan bangsa
Sayangnya, banyak dari kita yang tak mengganggap
Bahwa ini adalah tanggungjawab bersama
Ini tanah air kita
Ini pijakan nyata kita
Ini masa depan kita
Dan ini harapan aku, dia, dan mereka..

Percayalah kawan
Bahwa kita mampu tuk membawa perubahan
Menjadikan bumi pertiwi
Tuk selalu berpijak di nusantara tercinta..



TENGOKLAH MEREKA..

Saudaraku..
Apa kau akan tetap seperti itu..??
Membisu diatas kepalsuan pertiwi kini
Mengeras bak patung yang terpajang
Hening..dan hening..
Bagai terhipnotis

Mereka disana..
Lemah dan tak berdaya atas kemampuannya
Menerima luka dan perihnya kehidupan
Atas semua ulah tangan jahil

Tegakah kita..??
Setelah semua ini terjadi
Dan apakah kita akan tetap diam..??
Seolah mereka bukan siapa-siapa kita..
Dimana wujud kepedulianmu??
Dimana rasa simpati.mu??

Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk saling menyalahkan
Bukan sekedar berbicara..
Tapi buktikan dengan gerak langkah nyata
Tuk perubahan yang sesungguhnya..



Seperti itulah seharusnya..
Melihatnya..
Sungguh mengesankan
Begitu gesit dan lincahnya
Mengolah suatu yang kotor dan menjijikan
Menjadi alternatif yang sungguh mengesankan..

Diusia yang begitu muda..
Dia mampu membuat sesuatu yang berguna
Bukan saja untuk dirinya..
Tapi semata karena kepeduliannya..
Mengawali dari hal kecil
Namun sulit rasanya tuk ditiru yang lain..
 Bukan karena tingkat kesulitan
Atau berapa banyak harta yang harus dikeluarkan..
Hanya kesadaran, keuletan dan kemauan yang keras..
Itu saja..
Apa sulit.???
Dia bisa..
Dia mampu..
Bagaimana dengan kita..??