“Menabung sampah, hidup lebih bersih dan hari esok lebih baik”
Sampai saat ini belum ada pemecahan
yang tuntas dalam penanganan sampah, baik sampah organik maupun an organik.
Ditiap sudut jalan maupun di tiap penjuru rumah dan dimanapun itu, sampah
seakan telah menjadi pemandangan khas yang menjadi panorama. Banyaknya tempat
penampungan sampah yang telah disediakan oleh pemerintah pusat disetiap daerah,
sampai di jalan-jalan maupun tempat-tempat umum lainnya ternyata belum bisa
mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan oleh manusia tiap harinya. Hal ini
disebabkan oleh pemenuhan kebutuhan manusia akan bahan pangan yang dikonsumsi
dengan tidak seimbangnya kesadaran akan pembuangan sampah yang tepat, tanpa
harus menempatkan sisa – sisa makanannya di sembarang tempat. Karena sebagian
besar sampah yang dibuang secara sembarangan adalah sampah an organik, maka
sulit sekali bagi tanah untuk diurai, dan pada akhirnya daratan bumi ini
terlihat bak lautan sampah yang membentang luas.
Lalu, apakah dengan kondisi yang
sudah terlanjur seperti ini akankan kita masih terdiam bahkan pasrah dan
berkata, mau di apakan lagi? Toh berbagai cara telah dilakukan tapi belum ada
satupun yang dapat menjadi alternatif? Hanya sebatas itu sajakah pemikiran
kita? Tak adakah hasrat/keinginan untuk terus menggali dan mencari tahu kunci
pemecahan dari masalah yang tidak bisa begitu saja kita katakan sebagai suatu
hal yang lumrah? Saatnya kita bergerak tanpa harus saling menyalahkan atau
bahkan melimpahkan tugas kepada pihak yang diandalkan untuk mengurusi masalah
seperti ini. Tanamkan dan tekadkanlah dalam diri masing-masing bahwasannya ini
adalah tugas dan tanggungjawab bersama, tanpa memunculkan ego dan memikirkan
kepentingan masing-masing.
Langkah apa yang harus dimulai..??
Jika
berbicara mengenai konsepan atau teknis pelaksanaan untuk membuat suatu gerakan
dan perubahan, tentunya tidak akan menhasilkan apa-apa, jika diiringi dengan
tindak nyata dan kesadaran serta tekad yang kuat untuk menciptakan lingkungan
yang sehat, bersih, dan sejahtera. Tak perlu membuat terobosan yang baru atau
solusi yang harus disepakati dan difikirkan secara matang kembali. Mari kita
menilik dari kekurangan serta apa saja yang masih belum diselesaikan mengenai
program-program yang telah ada dan dibuat sebelumnya. Tak jauh dari usaha yang
telah dilakukan sebelumnya, ternyata dapat kita lanjutkan dan kembangkan
kembali apa-apa yang harus dibenahi mulai dari sekarang. Dimulai dari hal – hal
yang kecil dan dikerjakan secara gotongroyong pasti kita bisa memberikan perubahan
terhadap pola dan cara pandang setiap orang.
Dari sampah menjadi berkah..
Apabila
kita cermat dalam memilah jenis-jenis sampah yang dihasilkan dari berbagai
macam jenis penganan yang dikonsumsi sehari-hari ataupun dari detergen ddan
minyak wangi, dan apapun produk yang digunakan, dan selanjutnya akan menjadi
sampah, semua bahan-bahan an organic yang awalnya sangat membahayakan keindahan
dan kelestarian lingkungan, tetapi jika kita mampu mengolah dan mendaur ulang
(resycle) sampah – sampah tersebut menjadi bahan-bahan berdaya guna serta
bernilai estetis dan ekonomis tinggi. Tak perlu menguras tenaga dan
mengeluarkan banyak uang untuk melakukan pengolahan dan mendaur ulang sampah,
hanya dengan kesabaran, keikhlasan dan
menyisihkan waktu sedikit demi sedikit untuk mulai membuang sampah dan
mengajarkan serta mengajak kepada anak-anaknya, keluaranya, tetangga, hingga
sanak saudara untuk senantiasa membuang sampah pada tempatnya, tentunya dengan
membedakan tempat pembuangan sampah antara sampah organic dan an organic,
selanjutnya, dapat dengan mudah kita pisahkan antara kedua jenis sampah
sehingga dalam proses pendaur ulang menjadi barang-barang berdaya guna, dapat
lebih mudah untuk mengolahnya.
Sampah an organic, seperti plastic,
kaca-kaca, kaleng, kertas-kertas, dan sebagainya bisa didaur ulang menjadi
souvenir cantik dan lucu. Misalnya anekaragam tas, dompet, tempat pinsil,
lampion, hiasan kaca atau jendela, kertas file, jepitan, bros, dan masih banyak
lagi lainnya. Begitupun dengan sampah organic yang dapat dijadikan pupuk hijau
atau kompos, yakni dengan menyiapkan lahan khusus untuk lahan pertanian atau
bercocok tanam agar pupuk yang dihasilkan dapat langsung digunakan.
Mengapa harus Bank Sampah..??
Sulitnya
penyediaan tempat yang digunakan untuk menampung sampah yang jumlahnya
membludak, membuat kita berfikir panjang untuk menemukan solusi yang tepat.
Maka dari itu, terbesit ide untuk mendirikan bank sampah. Sebenarnya Bank
Sampah telah banyak diberdayakan oleh sebagian orang di beberapa daerah, namun
belum ada tindak lanjut atau realisasi yang dapat dijadikan sebagai contoh atau
penggagas untuk daerah yang belum mengetahui secara pasti apa itu bank sampah.
Sosialisasi merupakan pemecahan yang setidaknya bisa menumpas kepincangan
sosial yang menjadi rubik pembicaraan yang tiada hentinya. Konsep yang
ditawarkan bank sampah disini yaitu mengadopsi dari keberhasilan dan
keberlanjutan desa badegela, bantul, Yogyakarta, yang telah mampu bertahan
bahkan berkembang pesat sebagai satu-satunya Bank yang melayani penyetoran atau
menabung dengan sampah. Tata cara menabung di Bank Sampah sama halnya menabung
di Bank konvensional. Penabung menerima slip setoran, kemudian nasabah dibayar
sesuai jumlah sampah yag ditabung. Biasanya kan orang membuang sampah membayar,
sedangkan di Bank Sampah malah di bayar. Sampah-sampah tabungan dipilah dalam
tiga kelompok, yakni sampah kertas, plastic, dan botol. Setiap nasabah memiliki
“brankas” berupa karung besar, juga diberi nomor rekening untuk mengatur
pembukuan dan setoran, sampah – sampah kemudian diambil para pengepul per tiga
minggu. Para pengepul memberikan nilai ekonomis dengan membeli sampah setoran
para nasabah. Catatan nilai rupiah lalu dicocokkan dengan bukti setoran, baru
kemudian dibukukan. Harga sampah dari warga bervariasi, tergantung
klasifikasinya, kertas karton misalnya dihargai Rp2.000 per kilogram dan kertas
arsip Rp 1.500 per kilogram, serta harga plastik, botol dan kaleng disesuaikan
dengan ukuran.
.

Pencairan
tabungan biasanya disesuaikan dengan keinginan para nasabah, dan hasil yang
diperoleh sesuai dengan jumlah sampah yang dikumpulkan. Selain dijual ke
pengepul, sampah anorganik seperti plastik dan styrofoam bisa digunakan
untuk bahan kerajinan dari sampah. Perajinnya masyarakat sekitar. “Barang berdaya
guna itu dijual di distro bank sampah. Mulai dari tas, rak folder, hingga
dompet dari bahan sampah plastik”.
Nasabah bank sampah
perseorangan dan komunal. Sistem bagi hasil untuk nasabah perseorangan, 85
persen untuk nasabah dan 15 persen untuk operasional. Sedangkan nasabah
komunal, nilai bagi hasilnya 30 persen untuk petugas pengambil sampah dan 70
persen untuk nasabah.“Nilai bagi hasil nasabah komunal lebih sedikit, mengingat
bagian 30 persen diberikan kepada pengambil sampah komunal. Sedangkan nasabah
perseorangan menabung sampah dengan mengantar sendiri ke Bank. Selain itu,
dibentuk pula struktur dan pembagian kerja agar pengelolaan Bank Sampah dapat
berjalan dengan baik, yakni adanya direktur, wakil direktur, sekretaris,
bendahara dan teller. Meski dikelola secara terstruktur, para pemangku jabatan
tidak memperhitungkan gaji, karena Bank Sampah tidak bertujuan profit.
Nah,
dari pemaparan dan prospek kedepan, dapat dikatakan bahwa dengan adanya Bank
sampah utamanya dimaksudkan untuk mengubah perilaku masyarakat untuk dapat
memilah sampah antar sampah organic dan an organic khususnya dan umumnya dapat
membentuk karakter atau pribadi yang peduli akan keadaan (kebersihan,
keindahan, serta kesehatan) lingkungan sekitar. Mulailah membiasakan dari hal-hal
yang kecil, yaitu membuang sampah pada tempatnya dan memisahkan antara sampah
organic dan an organic serta membentuk jiwa yang kreatif dan inovatif yang
timbul dalam pribadi tiap-tiap orang untuk selalu berkarya, khususnya dengan
memanfaatkann dan mendaur ulang sampah.
0 komentar:
Posting Komentar