Jumat, 04 Januari 2013

“Menabung sampah, hidup lebih bersih dan hari esok lebih baik”



            Sampai saat ini belum ada pemecahan yang tuntas dalam penanganan sampah, baik sampah organik maupun an organik. Ditiap sudut jalan maupun di tiap penjuru rumah dan dimanapun itu, sampah seakan telah menjadi pemandangan khas yang menjadi panorama. Banyaknya tempat penampungan sampah yang telah disediakan oleh pemerintah pusat disetiap daerah, sampai di jalan-jalan maupun tempat-tempat umum lainnya ternyata belum bisa mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan oleh manusia tiap harinya. Hal ini disebabkan oleh pemenuhan kebutuhan manusia akan bahan pangan yang dikonsumsi dengan tidak seimbangnya kesadaran akan pembuangan sampah yang tepat, tanpa harus menempatkan sisa – sisa makanannya di sembarang tempat. Karena sebagian besar sampah yang dibuang secara sembarangan adalah sampah an organik, maka sulit sekali bagi tanah untuk diurai, dan pada akhirnya daratan bumi ini terlihat bak lautan sampah yang membentang luas.
            Lalu, apakah dengan kondisi yang sudah terlanjur seperti ini akankan kita masih terdiam bahkan pasrah dan berkata, mau di apakan lagi? Toh berbagai cara telah dilakukan tapi belum ada satupun yang dapat menjadi alternatif? Hanya sebatas itu sajakah pemikiran kita? Tak adakah hasrat/keinginan untuk terus menggali dan mencari tahu kunci pemecahan dari masalah yang tidak bisa begitu saja kita katakan sebagai suatu hal yang lumrah? Saatnya kita bergerak tanpa harus saling menyalahkan atau bahkan melimpahkan tugas kepada pihak yang diandalkan untuk mengurusi masalah seperti ini. Tanamkan dan tekadkanlah dalam diri masing-masing bahwasannya ini adalah tugas dan tanggungjawab bersama, tanpa memunculkan ego dan memikirkan kepentingan masing-masing.

Langkah apa yang harus dimulai..??
            Jika berbicara mengenai konsepan atau teknis pelaksanaan untuk membuat suatu gerakan dan perubahan, tentunya tidak akan menhasilkan apa-apa, jika diiringi dengan tindak nyata dan kesadaran serta tekad yang kuat untuk menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, dan sejahtera. Tak perlu membuat terobosan yang baru atau solusi yang harus disepakati dan difikirkan secara matang kembali. Mari kita menilik dari kekurangan serta apa saja yang masih belum diselesaikan mengenai program-program yang telah ada dan dibuat sebelumnya. Tak jauh dari usaha yang telah dilakukan sebelumnya, ternyata dapat kita lanjutkan dan kembangkan kembali apa-apa yang harus dibenahi mulai dari sekarang. Dimulai dari hal – hal yang kecil dan dikerjakan secara gotongroyong pasti kita bisa memberikan perubahan terhadap pola dan cara pandang setiap orang.
Dari sampah menjadi berkah..
            Apabila kita cermat dalam memilah jenis-jenis sampah yang dihasilkan dari berbagai macam jenis penganan yang dikonsumsi sehari-hari ataupun dari detergen ddan minyak wangi, dan apapun produk yang digunakan, dan selanjutnya akan menjadi sampah, semua bahan-bahan an organic yang awalnya sangat membahayakan keindahan dan kelestarian lingkungan, tetapi jika kita mampu mengolah dan mendaur ulang (resycle) sampah – sampah tersebut menjadi bahan-bahan berdaya guna serta bernilai estetis dan ekonomis tinggi. Tak perlu menguras tenaga dan mengeluarkan banyak uang untuk melakukan pengolahan dan mendaur ulang sampah, hanya dengan kesabaran,  keikhlasan dan menyisihkan waktu sedikit demi sedikit untuk mulai membuang sampah dan mengajarkan serta mengajak kepada anak-anaknya, keluaranya, tetangga, hingga sanak saudara untuk senantiasa membuang sampah pada tempatnya, tentunya dengan membedakan tempat pembuangan sampah antara sampah organic dan an organic, selanjutnya, dapat dengan mudah kita pisahkan antara kedua jenis sampah sehingga dalam proses pendaur ulang menjadi barang-barang berdaya guna, dapat lebih mudah untuk mengolahnya.
            Sampah an organic, seperti plastic, kaca-kaca, kaleng, kertas-kertas, dan sebagainya bisa didaur ulang menjadi souvenir cantik dan lucu. Misalnya anekaragam tas, dompet, tempat pinsil, lampion, hiasan kaca atau jendela, kertas file, jepitan, bros, dan masih banyak lagi lainnya. Begitupun dengan sampah organic yang dapat dijadikan pupuk hijau atau kompos, yakni dengan menyiapkan lahan khusus untuk lahan pertanian atau bercocok tanam agar pupuk yang dihasilkan dapat langsung digunakan.




Mengapa harus Bank Sampah..??
            Sulitnya penyediaan tempat yang digunakan untuk menampung sampah yang jumlahnya membludak, membuat kita berfikir panjang untuk menemukan solusi yang tepat. Maka dari itu, terbesit ide untuk mendirikan bank sampah. Sebenarnya Bank Sampah telah banyak diberdayakan oleh sebagian orang di beberapa daerah, namun belum ada tindak lanjut atau realisasi yang dapat dijadikan sebagai contoh atau penggagas untuk daerah yang belum mengetahui secara pasti apa itu bank sampah. Sosialisasi merupakan pemecahan yang setidaknya bisa menumpas kepincangan sosial yang menjadi rubik pembicaraan yang tiada hentinya. Konsep yang ditawarkan bank sampah disini yaitu mengadopsi dari keberhasilan dan keberlanjutan desa badegela, bantul, Yogyakarta, yang telah mampu bertahan bahkan berkembang pesat sebagai satu-satunya Bank yang melayani penyetoran atau menabung dengan sampah. Tata cara menabung di Bank Sampah sama halnya menabung di Bank konvensional. Penabung menerima slip setoran, kemudian nasabah dibayar sesuai jumlah sampah yag ditabung. Biasanya kan orang membuang sampah membayar, sedangkan di Bank Sampah malah di bayar. Sampah-sampah tabungan dipilah dalam tiga kelompok, yakni sampah kertas, plastic, dan botol. Setiap nasabah memiliki “brankas” berupa karung besar, juga diberi nomor rekening untuk mengatur pembukuan dan setoran, sampah – sampah kemudian diambil para pengepul per tiga minggu. Para pengepul memberikan nilai ekonomis dengan membeli sampah setoran para nasabah. Catatan nilai rupiah lalu dicocokkan dengan bukti setoran, baru kemudian dibukukan. Harga sampah dari warga bervariasi, tergantung klasifikasinya, kertas karton misalnya dihargai Rp2.000 per kilogram dan kertas arsip Rp 1.500 per kilogram, serta harga plastik, botol dan kaleng disesuaikan dengan ukuran.
.

http://www.vhrmedia.com/2010/ngadimin/form/kakafile/Images/kisah/11_November_2011/bank%20sampah%203.jpg

            Pencairan tabungan biasanya disesuaikan dengan keinginan para nasabah, dan hasil yang diperoleh sesuai dengan jumlah sampah yang dikumpulkan. Selain dijual ke pengepul, sampah anorganik seperti plastik dan styrofoam bisa digunakan untuk bahan kerajinan dari sampah. Perajinnya masyarakat sekitar. “Barang berdaya guna itu dijual di distro bank sampah. Mulai dari tas, rak folder, hingga dompet dari bahan sampah plastik”.
Nasabah bank sampah perseorangan dan komunal. Sistem bagi hasil untuk nasabah perseorangan, 85 persen untuk nasabah dan 15 persen untuk operasional. Sedangkan nasabah komunal, nilai bagi hasilnya 30 persen untuk petugas pengambil sampah dan 70 persen untuk nasabah.“Nilai bagi hasil nasabah komunal lebih sedikit, mengingat bagian 30 persen diberikan kepada pengambil sampah komunal. Sedangkan nasabah perseorangan menabung sampah dengan mengantar sendiri ke Bank. Selain itu, dibentuk pula struktur dan pembagian kerja agar pengelolaan Bank Sampah dapat berjalan dengan baik, yakni adanya direktur, wakil direktur, sekretaris, bendahara dan teller. Meski dikelola secara terstruktur, para pemangku jabatan tidak memperhitungkan gaji, karena Bank Sampah tidak bertujuan profit.
            Nah, dari pemaparan dan prospek kedepan, dapat dikatakan bahwa dengan adanya Bank sampah utamanya dimaksudkan untuk mengubah perilaku masyarakat untuk dapat memilah sampah antar sampah organic dan an organic khususnya dan umumnya dapat membentuk karakter atau pribadi yang peduli akan keadaan (kebersihan, keindahan, serta kesehatan) lingkungan sekitar. Mulailah membiasakan dari hal-hal yang kecil, yaitu membuang sampah pada tempatnya dan memisahkan antara sampah organic dan an organic serta membentuk jiwa yang kreatif dan inovatif yang timbul dalam pribadi tiap-tiap orang untuk selalu berkarya, khususnya dengan memanfaatkann dan mendaur ulang sampah.

0 komentar:

Posting Komentar