Jumat, 04 Januari 2013

Arti jujur dari Ayah…"



                              Matahari belum sempat menampakkan dirinya dibelahan bumi, ibu telah membangunkan lelapnya tidurku. “nak..ayo nak, bangun.. segera sholat subuh dan bawa perlengkapan sekolahmu, mobil losbak sudah menanti kita didepan rumah.. tegur ibu. “hoaamm..masih sangat mengantuk bu..mataku sulit sekali rasanya untuk terbuka lebar.. jawabku. Ayo nak, janganlah bermalas-malasan. Masih ingatkah pesan ibu..? sejenak aku bergegas untuk sholat subuh dan merapihkan perlengkapan sekolahku, sambil terbayang-bayang pesan dan rintihan ibu  “kamu harus menjadi orang sukses, jangan seperti ayah dan ibumu, sedetikpun waktu yang terbuang maka berjuta rezeki yang seharusnya datang padamu, semuanya akan pergi menjauh”. Setelah semuanya selesai akupun lekas menaiki losbak yang penuh dengan sayur mayur dan beberapa orang yang hendak menjajakan sayurannya dipasar, termasuk ayah dan ibuku. Aku duduk dipaha ayah, sedang ibu menggendong adik bayiku. Ya.. inilah aktivitas keluargaku tiap harinya, keluarga kecil yang sederhana, tapi aku sangat bahagia dan senang menjalaninya. Ibu dan ayah selalu mengajarkanku hidup yang sangat sederhana dan kerja keras dalam setiap usaha yang dijalankan, tak perlu malu dan ragu selama pekerjaan itu tidak merugikan orang lain dan menyimpang dari norma agama dan hukum. Ayah dan ibu bukan dari kelurga yang berada, pendidikannya hanya sampai menengah pertama, tetapi walaupun begitu ayah maupun ibu selalu menemani dan mengajarkanku membaca, menulis, berhitung, sesuai dengan kemampuannya. Aku bangga dan beruntung mempunyai orangtua seperti mereka, belum lagi dukungan dari kerabat ayah dan ibu, sesama pedagang sayur yang setiap harinnya bersamaku dan keluargaku yang selalu memberi dukungan serta motivasi tiada henti padaku, sehingga jiwa dewasa itu muncul pada diri gadis kecil berusia 8 tahun.. dan itulah aku. Sesampainya dipasar, ayah juga ibu tak begitu saja sarapan atau istirahat sebentar, mereka langsung membuat tenda dari terpal dan menempatkan sayur mayur pada posisi yang begitu rapi, sementara tugasku menemani adik bayiku yang tertidur lelap sembari memilih bawang merah, tomat  ataupun cabai mana yang masih bagus, besar-besar  dan yang busuk atau  tak layak untuk dijual, ibu dan ayah yang mengajariku untuk menjual barang yang bagus dan baik untuk para pembeli agar mereka tidak kecewa. Ya, lagi-lagi poin plus itu aku dapatkan dari ayah dan ibu. Gotong royong, bahu membahu antar ayah, ibu, dan aku, itupun menjadi penilaian terbaik yang semuanya aku tuliskan di buku kecil (diaryku).
                        Tepat pukul 06.30 wib aku sudah mengganti pakaianku dengan seragam sekolah, ibu menyiapkan sebungkus nasi uduk untukku beserta sebotol air putih untuk sarapan disekolah, sementara ayah sedang sibuk melayani pelanggan sambil sekali-kali melihat kondisi adikku yang masih terlelap dalam tidurnya. Segera aku bergegas pergi menuju sekolah, karena aku harus menempuh waktu 15 menit untuk sampai kesekolah, aku tak mau terlambat, karena aku sudah terbiasa datang tepat waktu bahkan 10 menit sebelum bel tanda masuk berbunyi. Terkadang saat nyaris aku terlambat ke sekolah ibu selalu memberi uang lebih untuk ongkos ojek menuju sekolah, tapi aku enggan untuk menggunakannya selama kaki ini masih kuat untuk berjalan bahkan berlari. Aku kembalikan saja uang itu kepada ibu. Uang jajanpun tak pernah aku jajankan, uangnya selalu kutabung untuk membantu ibu dan ayah membayar uang sekolah selepas aku lulus dari sekolah dasar ini. Ilmu menghitung yang ayah ajarkan padaku juga saat aku melayani para pembeli baik dalam jumlah kecil maupun besar yang harus menggunakan kalkulator dagang ayah telah ayah ajarkan padaku walaupun aku lebih nyaman menghitung dengan kecepatan jari dan logika akhirnya menular dan mempermudah aku dalam mata pelajaran matematika dan hitungan lainnya, aku begitu senang dan cepat saat ibu guru memberi soal-soal seputar hitungan ketimbang mata pelajaran non eksak yang harus menghafal, tapi tak menyurutkan semangatku untuk berusaha belajar menghafal juga. Dari situ aku belajar, sungguh tak berani rasanya untuk berbohong atau menipu pembeli saat aku melayani mereka di kios kecil ibu dan ayah dipasar, karena ayah selalu berkata padaku jika penjual jujur maka pembeli akan senang dan percaya kepada kita. Akupun telah melihat kepastiannya dengan melihat pelanggan setia ayah yang selalu belanja di kios kami, dan dengan bertambahnya pembeli baru, itu adalah balasan bagi para penjual jujur dan benar.
                        Saat hari libur dari pagi hingga siang hari aku membantu ayah dan ibu berjualan dipasar. Karena adik bayiku memang sedang rewel – rewelnya, ibu akhirnya harus menggendong dan mengasuh adik seharian, ayah percaya aku bisa membantunya untuk menjaga kios dan melayani pembeli. Dengan senang hati aku melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh ibu. Aku memperhatikan dengan seksama apa yang ayah lakukan, mulai dari menimbang sayuran dan lainnya dengan menawarkan kembali kepada pembeli untuk menguji kebenarannya hingga pemberian harga, semuanya tidak ada yang protes dan bahkan ada yang menitip beberapa kilo tanpa minta untuk diukur kembali karena pembeli itu telah langganan dan sangat percaya sekali kepada ayah, dan tetap ayah menitip pesan kepada pembelinya, jika timbangan ada yang kurang sedikitpun tolong segera beritahu saya, biar saya berikan kurangnya, itu yang selalu ayah katakan kepada para pembeli. Betapa kagumnya aku memiliki ayah sepertinya, yaaa.. ayahku seorang pedagang sayur mayur yang jujur.
Ketika asyik melihat ayah dan melayani beberapa pembeli, tiba-tiba ayah menyuruhku untuk memberikan cabai merah yang telah ayah sediakan dalam kantung plasti yang berukuran besar kepada salah satu kerabatnya, pedagang sayur-mayur pula tapi letak kiosnya berseberangan dengan kios ayah, segera aku mengantarkannya. Sesampainya ditempat kerabat ayah itu, lekas aku menyapa paman dan memberikan amanah yang diberikan oleh ayah, namun beliau sedang asik melayani pembelinya yang lumayan banyak. Akhirnya aku menunggu hingga paman selesai melayani pembelinya, aku sangat senang memperhatikan semua yang pedagang yang melayani pembelinya, layaknya aku memperhatikan ayah. Entah mengapa tatapanku tertuju kepada timbangan yang kulihat tidak wajar, ayah sempat member tahuku mengenai timbangan yang sesuai dan timbangan yang salah atau dengan maksud mencurangi pembelinya, aku coba mendekat dan memperhatikan dengan seksama kembali untuk kedua kalinya, dan memang benar, timbangan itu telah dirubah dari bentuk aslinya. Paman menatapku tajam sambil berkata “itu dari bapakmu ndo? Yowis, sampaikan terimakasih paman untuk bapakmu yo.. sambil terburu-buru mengambil dan menyimpan barang dagangannya itu kedalam kiosnya. Aku seperti dipersilahkan untuk pergi dari kios paman, bergegaslah aku menuju kiosku, dan ketika sampai di kios, aku langsung menceritakan kejadian itu kepada ayah, awalnya ayah tak percaya dan sempat menasihatiku untuk tidak berprasangka buruk kepada siapapun, termasuk kepada kerabatnya, namun setelah aku menjelaskan kembali secara detail dan rinci akhirnya ayah mau mendengarkan perkataanku.
Keesokan harinya saat aku pulang dari sekolah, kebetulan aku melewati kios milik paman, teman ayah yang kemarin aku mengunjunginya. Tumben kiosnya ramai, penasaran dan segeralah aku mendekat menuju kiosnya, dan ternyata ada salah satu pembeli yang protes dan tau aksi kecurangan paman melalui timbangannya. Pembeli itu ngotot meminta kejujuran dan tanggung jawab atas apa yang telah dilakukan paman, namun paman masih saja mengelak bahwa beliau tidak melakukan kecurangan apapun, tiba-toba ayah datang dan mencoba menenangkan suasana. Kebetulan ayah membawa kentang yang baru diambilnya dari agen dan ternyata ibu pembeli itupun sedang mempermasalahkan kentang yang dibelinya, spontan ayah menambahkan beberapa butir kentang yang dibawanya dan meminta maaf kepada pembeli bahwa paman hasyim (nama asli kerabat ayah itu) sedang khilaf dan lupa hanya memasukan beberapa butir saja. Dan pada akhirnya ibu pembeli itu mau mengerti dan memaafkan paman hasyim. Syukurlah ada bapak ini, dan maaf jika tadi perkataan saya terlalu kasar dan keras, ya namanya juga sedang emosi pak, sahut ibu pembeli. Iya bu, sama-sama kita saling mengingatkan saja, jika kami selaku penjual melakukan kesalahan tolong segera tegur dan ingatkan kami, karena kami juga manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan salah.. sapa ayah. Dengan senyum ikhlas ibu pembeli itu menjawab pernyataan ayah.
Setelah semuanya sepi, aku menemui ayah. Sambil mencium kedua tangan ayah kupeluk ayah dengan erat. Terimakasih ayah, atas apa yang telah engkau ajarkan padaku, banggaku pada ayah. Ayah segera menjabat tanganku pergi, tapi tak lupa ayah meminta izin kepada paman hasyim untuk lekas kembali ke kios kami. Tiba-tiba paman hasyim memeluk ayah dengan erat. Terimakasih..terimakasih..saudaraku, atas pertolongan dan teguran yang kau tunjukkan padaku tadi, kini aku sadar dan sangat menyesal,tak akan kuulangi lagi perbuatan seperti itu, aku janji.. ayah begitu senang mendengar perkataan kerabatnya sambil membalas, “ya saudaraku, sudah sepatutnyalah kita saling menegur dan mengingatkan, segera bertaubat dan mintalah ampun kepadaNya, karena sekecil apapun kecurangan yang kita lakukan pasti akan ada balasan bagi mereka yang telah melakukannya, baik itu didunia maupun di akhirat. Apalagi kita yang berprofesi sebagai pedagang, memang benar-benar diuji kejujuran dan kesabarannya, barang siapa yang lulus dari semua ujian tersebut, maka Allah akan meninggikan derajat keimanan dan ketaqwaannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung. Oleh karena itu, tanamkanlah selalu sikap jujur dan bijaksana dalam mengambil setiap tindakan dan keputusan, jangan terbawa oleh kondisi dan situasi yang seringkali menyudutkan kita. Bersabarlah dan terus ikhtiar, karena rezeki setiap orang itu telah diatur olehNya, dan tidak mungkin tertukar, dengan syarat orang itu harus jujur, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas.. “subhanallah..” bersamaan aku dan paman hasyim memuji asmaNya.
Ayah..kau adalah segalanya bagiku, tak kalah seperti ibu, engkau telah mengajarkan banyak arti kehidupan bagi si gadis kecil ini, yang masih ingin tahu dan terus mencari tahu tentang apapun yang dilihat dan dialami, karena engkau ayah yang hebat, ayah yang luarbiasa.. kini aku yang kecil menjadi tau semua yang baik dan seharusnya aku lakukan dengan tindakan atau perbuatan yang engkau perlihatkan dan contohkan kepada anakmu ini.. dan kini aku paham makna kejujuran yang sesungguhnya… Terimakasih AYAH.. ^_^

0 komentar:

Posting Komentar