Arti jujur dari Ayah…"
Matahari
belum sempat menampakkan dirinya dibelahan bumi, ibu telah membangunkan
lelapnya tidurku. “nak..ayo nak, bangun.. segera sholat subuh dan bawa
perlengkapan sekolahmu, mobil losbak sudah menanti kita didepan rumah.. tegur
ibu. “hoaamm..masih sangat mengantuk bu..mataku sulit sekali rasanya untuk
terbuka lebar.. jawabku. Ayo nak, janganlah bermalas-malasan. Masih ingatkah
pesan ibu..? sejenak aku bergegas untuk sholat subuh dan merapihkan
perlengkapan sekolahku, sambil terbayang-bayang pesan dan rintihan ibu “kamu harus menjadi orang sukses, jangan
seperti ayah dan ibumu, sedetikpun waktu yang terbuang maka berjuta rezeki yang
seharusnya datang padamu, semuanya akan pergi menjauh”. Setelah semuanya
selesai akupun lekas menaiki losbak yang penuh dengan sayur mayur dan beberapa
orang yang hendak menjajakan sayurannya dipasar, termasuk ayah dan ibuku. Aku
duduk dipaha ayah, sedang ibu menggendong adik bayiku. Ya.. inilah aktivitas
keluargaku tiap harinya, keluarga kecil yang sederhana, tapi aku sangat bahagia
dan senang menjalaninya. Ibu dan ayah selalu mengajarkanku hidup yang sangat
sederhana dan kerja keras dalam setiap usaha yang dijalankan, tak perlu malu
dan ragu selama pekerjaan itu tidak merugikan orang lain dan menyimpang dari
norma agama dan hukum. Ayah dan ibu bukan dari kelurga yang berada,
pendidikannya hanya sampai menengah pertama, tetapi walaupun begitu ayah maupun
ibu selalu menemani dan mengajarkanku membaca, menulis, berhitung, sesuai
dengan kemampuannya. Aku bangga dan beruntung mempunyai orangtua seperti
mereka, belum lagi dukungan dari kerabat ayah dan ibu, sesama pedagang sayur
yang setiap harinnya bersamaku dan keluargaku yang selalu memberi dukungan
serta motivasi tiada henti padaku, sehingga jiwa dewasa itu muncul pada diri
gadis kecil berusia 8 tahun.. dan itulah aku. Sesampainya dipasar, ayah juga
ibu tak begitu saja sarapan atau istirahat sebentar, mereka langsung membuat
tenda dari terpal dan menempatkan sayur mayur pada posisi yang begitu rapi,
sementara tugasku menemani adik bayiku yang tertidur lelap sembari memilih
bawang merah, tomat ataupun cabai mana
yang masih bagus, besar-besar dan yang
busuk atau tak layak untuk dijual, ibu
dan ayah yang mengajariku untuk menjual barang yang bagus dan baik untuk para
pembeli agar mereka tidak kecewa. Ya, lagi-lagi poin plus itu aku dapatkan dari
ayah dan ibu. Gotong royong, bahu membahu antar ayah, ibu, dan aku, itupun
menjadi penilaian terbaik yang semuanya aku tuliskan di buku kecil (diaryku).
Tepat pukul 06.30 wib aku sudah mengganti
pakaianku dengan seragam sekolah, ibu menyiapkan sebungkus nasi uduk untukku
beserta sebotol air putih untuk sarapan disekolah, sementara ayah sedang sibuk
melayani pelanggan sambil sekali-kali melihat kondisi adikku yang masih
terlelap dalam tidurnya. Segera aku bergegas pergi menuju sekolah, karena aku
harus menempuh waktu 15 menit untuk sampai kesekolah, aku tak mau terlambat,
karena aku sudah terbiasa datang tepat waktu bahkan 10 menit sebelum bel tanda
masuk berbunyi. Terkadang saat nyaris aku terlambat ke sekolah ibu selalu
memberi uang lebih untuk ongkos ojek menuju sekolah, tapi aku enggan untuk
menggunakannya selama kaki ini masih kuat untuk berjalan bahkan berlari. Aku
kembalikan saja uang itu kepada ibu. Uang jajanpun tak pernah aku jajankan,
uangnya selalu kutabung untuk membantu ibu dan ayah membayar uang sekolah
selepas aku lulus dari sekolah dasar ini. Ilmu menghitung yang ayah ajarkan
padaku juga saat aku melayani para pembeli baik dalam jumlah kecil maupun besar
yang harus menggunakan kalkulator dagang ayah telah ayah ajarkan padaku
walaupun aku lebih nyaman menghitung dengan kecepatan jari dan logika akhirnya
menular dan mempermudah aku dalam mata pelajaran matematika dan hitungan
lainnya, aku begitu senang dan cepat saat ibu guru memberi soal-soal seputar
hitungan ketimbang mata pelajaran non eksak yang harus menghafal, tapi tak
menyurutkan semangatku untuk berusaha belajar menghafal juga. Dari situ aku
belajar, sungguh tak berani rasanya untuk berbohong atau menipu pembeli saat
aku melayani mereka di kios kecil ibu dan ayah dipasar, karena ayah selalu
berkata padaku jika penjual jujur maka pembeli akan senang dan percaya kepada
kita. Akupun telah melihat kepastiannya dengan melihat pelanggan setia ayah
yang selalu belanja di kios kami, dan dengan bertambahnya pembeli baru, itu
adalah balasan bagi para penjual jujur dan benar.
Saat hari libur dari pagi hingga siang hari
aku membantu ayah dan ibu berjualan dipasar. Karena adik bayiku memang sedang
rewel – rewelnya, ibu akhirnya harus menggendong dan mengasuh adik seharian,
ayah percaya aku bisa membantunya untuk menjaga kios dan melayani pembeli.
Dengan senang hati aku melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh ibu.
Aku memperhatikan dengan seksama apa yang ayah lakukan, mulai dari menimbang
sayuran dan lainnya dengan menawarkan kembali kepada pembeli untuk menguji
kebenarannya hingga pemberian harga, semuanya tidak ada yang protes dan bahkan
ada yang menitip beberapa kilo tanpa minta untuk diukur kembali karena pembeli
itu telah langganan dan sangat percaya sekali kepada ayah, dan tetap ayah
menitip pesan kepada pembelinya, jika timbangan ada yang kurang sedikitpun
tolong segera beritahu saya, biar saya berikan kurangnya, itu yang selalu ayah
katakan kepada para pembeli. Betapa kagumnya aku memiliki ayah sepertinya,
yaaa.. ayahku seorang pedagang sayur mayur yang jujur.
Ketika
asyik melihat ayah dan melayani beberapa pembeli, tiba-tiba ayah menyuruhku
untuk memberikan cabai merah yang telah ayah sediakan dalam kantung plasti yang
berukuran besar kepada salah satu kerabatnya, pedagang sayur-mayur pula tapi
letak kiosnya berseberangan dengan kios ayah, segera aku mengantarkannya.
Sesampainya ditempat kerabat ayah itu, lekas aku menyapa paman dan memberikan
amanah yang diberikan oleh ayah, namun beliau sedang asik melayani pembelinya
yang lumayan banyak. Akhirnya aku menunggu hingga paman selesai melayani
pembelinya, aku sangat senang memperhatikan semua yang pedagang yang melayani
pembelinya, layaknya aku memperhatikan ayah. Entah mengapa tatapanku tertuju
kepada timbangan yang kulihat tidak wajar, ayah sempat member tahuku mengenai
timbangan yang sesuai dan timbangan yang salah atau dengan maksud mencurangi
pembelinya, aku coba mendekat dan memperhatikan dengan seksama kembali untuk kedua
kalinya, dan memang benar, timbangan itu telah dirubah dari bentuk aslinya.
Paman menatapku tajam sambil berkata “itu dari bapakmu ndo? Yowis, sampaikan
terimakasih paman untuk bapakmu yo.. sambil terburu-buru mengambil dan
menyimpan barang dagangannya itu kedalam kiosnya. Aku seperti dipersilahkan
untuk pergi dari kios paman, bergegaslah aku menuju kiosku, dan ketika sampai
di kios, aku langsung menceritakan kejadian itu kepada ayah, awalnya ayah tak
percaya dan sempat menasihatiku untuk tidak berprasangka buruk kepada siapapun,
termasuk kepada kerabatnya, namun setelah aku menjelaskan kembali secara detail
dan rinci akhirnya ayah mau mendengarkan perkataanku.
Keesokan
harinya saat aku pulang dari sekolah, kebetulan aku melewati kios milik paman,
teman ayah yang kemarin aku mengunjunginya. Tumben kiosnya ramai, penasaran dan
segeralah aku mendekat menuju kiosnya, dan ternyata ada salah satu pembeli yang
protes dan tau aksi kecurangan paman melalui timbangannya. Pembeli itu ngotot
meminta kejujuran dan tanggung jawab atas apa yang telah dilakukan paman, namun
paman masih saja mengelak bahwa beliau tidak melakukan kecurangan apapun,
tiba-toba ayah datang dan mencoba menenangkan suasana. Kebetulan ayah membawa
kentang yang baru diambilnya dari agen dan ternyata ibu pembeli itupun sedang
mempermasalahkan kentang yang dibelinya, spontan ayah menambahkan beberapa
butir kentang yang dibawanya dan meminta maaf kepada pembeli bahwa paman hasyim
(nama asli kerabat ayah itu) sedang khilaf dan lupa hanya memasukan beberapa
butir saja. Dan pada akhirnya ibu pembeli itu mau mengerti dan memaafkan paman
hasyim. Syukurlah ada bapak ini, dan maaf jika tadi perkataan saya terlalu
kasar dan keras, ya namanya juga sedang emosi pak, sahut ibu pembeli. Iya bu,
sama-sama kita saling mengingatkan saja, jika kami selaku penjual melakukan
kesalahan tolong segera tegur dan ingatkan kami, karena kami juga manusia biasa
yang tak luput dari khilaf dan salah.. sapa ayah. Dengan senyum ikhlas ibu
pembeli itu menjawab pernyataan ayah.
Setelah
semuanya sepi, aku menemui ayah. Sambil mencium kedua tangan ayah kupeluk ayah
dengan erat. Terimakasih ayah, atas apa yang telah engkau ajarkan padaku,
banggaku pada ayah. Ayah segera menjabat tanganku pergi, tapi tak lupa ayah
meminta izin kepada paman hasyim untuk lekas kembali ke kios kami. Tiba-tiba
paman hasyim memeluk ayah dengan erat. Terimakasih..terimakasih..saudaraku,
atas pertolongan dan teguran yang kau tunjukkan padaku tadi, kini aku sadar dan
sangat menyesal,tak akan kuulangi lagi perbuatan seperti itu, aku janji.. ayah
begitu senang mendengar perkataan kerabatnya sambil membalas, “ya saudaraku,
sudah sepatutnyalah kita saling menegur dan mengingatkan, segera bertaubat dan
mintalah ampun kepadaNya, karena sekecil apapun kecurangan yang kita lakukan
pasti akan ada balasan bagi mereka yang telah melakukannya, baik itu didunia
maupun di akhirat. Apalagi kita yang berprofesi sebagai pedagang, memang
benar-benar diuji kejujuran dan kesabarannya, barang siapa yang lulus dari
semua ujian tersebut, maka Allah akan meninggikan derajat keimanan dan
ketaqwaannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung. Oleh karena itu,
tanamkanlah selalu sikap jujur dan bijaksana dalam mengambil setiap tindakan
dan keputusan, jangan terbawa oleh kondisi dan situasi yang seringkali
menyudutkan kita. Bersabarlah dan terus ikhtiar, karena rezeki setiap orang itu
telah diatur olehNya, dan tidak mungkin tertukar, dengan syarat orang itu harus
jujur, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas..
“subhanallah..” bersamaan aku dan paman hasyim memuji asmaNya.
Ayah..kau
adalah segalanya bagiku, tak kalah seperti ibu, engkau telah mengajarkan banyak
arti kehidupan bagi si gadis kecil ini, yang masih ingin tahu dan terus mencari
tahu tentang apapun yang dilihat dan dialami, karena engkau ayah yang hebat,
ayah yang luarbiasa.. kini aku yang kecil menjadi tau semua yang baik dan
seharusnya aku lakukan dengan tindakan atau perbuatan yang engkau perlihatkan
dan contohkan kepada anakmu ini.. dan kini aku paham makna kejujuran yang
sesungguhnya… Terimakasih AYAH.. ^_^
0 komentar:
Posting Komentar